Proyek Irigasi Bajulmati Bikin Lahan Mati, Ratusan Petani Kehilangan Penghasilan

Lahan pertanian mati akibat pengeringan sungai DI Bajulmati
Sumber :
  • Anton Heri Laksana/ VIVA Banyuwangi

Banyuwangi, VIVA Banyuwangi –Pasca dilakukan pengeringan Daerah Irigasi (DI) Bajulmati saat pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi, ratusan petani dan buruh tani kehilangan mata pencaharian. Mereka kini harus bejibaku kesana kemari untuk mencari pekerjaan lain demi mencukupi kebutuhan keluarga. 

img_title Pusat Penetasan Telur Penyu di Banyuwangi, Satu-satunya di Indonesia dengan Kapasitas 20 Ribu Butir

Terhentinya pasokan air pada ratusan hektar lahan persawahan di 4 Desa wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mulai menimbulkan efek ekonomi. 

Ratusan areal persawahan di Desa Bajulmati, Desa Sidodadi, Desa Bimorejo dan Desa Sumber Kencono kini menjadi lahan mati. 

img_title Perluas Akses Pendidikan, Banyuwangi Buka Beasiswa B-Pro Tahun Akademik 2026/2027

Tidak ada lagi aktifitas pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian ratusan petani dan buruh tani untuk menghidupi keluarga mereka. 

“Lahan pertanian yang saya gunakan merupakan lahan sewa, ini sudah jelas tidak bisa saya gunakan selama lebih dari 2 bulan,” ujar seorang petani, Nari. 

img_title Bupati Ipuk Minta Seluruh ASN Banyuwangi Proaktif Respons Keluhan Warga

Berdasarkan tahapan pelaksanaan proyek yang menelan dana tahun anggaran 2025 tersebut, seluruh program sudah dilakukan sosialisasi pada petani. 

Namun dalam hal ini, petani hanya bisa mengangguk pasrah karena tidak mungkin menolak pelaksanaan proyek dengan dana Rp 22.941.070.400 tersebut. 

“Kami dihimbau untuk tidak menanam, oke kami lakukan. Berhenti menanam selama 2 bulan karena sungai dikeringkan. Lalu kami boleh menanam lagi, apakah langsung panen? Kami masih harus mengeuarkan modal selama 3 hingga 4 bulan berikutnya. Jika ditotal, perekonomian kami terhenti selama 6 bulan,” tutur petani lain, Wawan. 

Kondisi yang tidak jauh memprihatinkan juga dialami kalangan buruh tani yang dapat dipastikan kehilangan mata pencariannya. 

Ratusan buruh tani tersebut, kini harus bejibaku serta pontang panting kesana kemari untuk mencari lapangan pekerjaan lain untuk mencukupi keluarga mereka. 

“Jadi kuli panggul di pasar tidak mungkin karena pasar juga lesu akibat tidak ada (hasil) pertanian. Jadi buruh bangunan juga sama saja, tidak ada. Tolong bantu kami, bagaimana cara kami untuk menghidupi keluarga jika seperti ini,” kata seorang buruh buruh tani, Bayu. 

Menurut Staf PSDA Sampeyan Baru Bondowoso, Eko Pujiantoro segala prosedur sudah dilakukan sejak sebelum pelaksanaan proyek yang ditargetkan selesai pada akhir Bulan Desember 2025 tersebut. 

Halaman Selanjutnya
img_title