Dampak Pengeringan DI Bajulmati, Sumur Warga Kering Persega Gagal Siram RTH Bajulmati

Upaya penyiraman lapangan RTH Bajulmati oleh Persega
Sumber :
  • Anton Heri Laksana/ VIVA Banyuwangi

Banyuwangi, VIVA Banyuwangi –Pengeringan sungai Daerah Irigasi (DI) Bajulmati untuk pelaksanaan poyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Bajulmati mulai menimbulkan dampak sosial. Sejumlah sumur warga mulai mengalami kekeringan dalam sepekan terakhir. 

img_title Bikin Delegasi ASEAN Terpukau, Kampung Nelayan Modern Banyuwangi Disebut Layak Ditiru Negara Lain

Upaya penyiraman lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur gagal dilakukan. 

Sejumlah pengurus tim sepak bola Persega yang berinisiatif melakukan penyiraman lapangan tidak membuahkan hasil. 

img_title Bosan Malam Minggu? Coba Sensasi Galatama Lele di Kalitopo di Desa Sidodadi!

Sumur bor yang berada di sudut utara RTH Bajulmati tidak lagi memiliki sumber mata air yang cukup memadai. 

Alat penyedot air dengan kapasitas yang cukup besar tidak mampu menarik air dari bawah tanah akibat stok air pada mata air telah menipis.

img_title Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Pelajar SLTP Terhadap Anak Dibawah Umur di Wongsorejo

“Kita mulai tadi tidak bisa menarik air dari bawah. Beberapa kali kita coba, kucuran air yang keluar sangat minim,” ujar Kadiv Event Persega, Bayu Andri. 

Sekjen Persega, Dedi Hermawan (singlet putih)

Photo :
  • Anton Heri Laksana/ VIVA Banyuwangi

Langkah alternatif dilakukan dengan melakukan penambahan pipa paralon yang sebelumnya 12 meter didalamkan hingga mencapai 24 meter. 

“Jika sebelumnya pada kedalaman 12 meter, pasokan airnya aman sebelum ada pengeringan sungai. Semburan airnya sangat besar. Tapi sekarang beda, pada kedalaman sama tidak keluar air sama sekali dan pada kedalaman 24 meter, air keluarnya kecil,” tutur Sekjen Persega, Dedi Hermawan yang memiliki kemampuan teknik tentang sumur bor. 

Mengetahui hal tersebut, Ketua 3 Persega Adi Siswanto mengaku merasa dirugikan akibat ketiadaan sumber air pada sumur bor milik Pemerintah Desa (Pemdes) Bajulmati. 

“Lapangan kalau tidak kita airi maka sangat kering. Rumput bisa mati dan sulit untuk tumbuh kembali. Debu lapangan juga sangat parah dan ini bisa mengganggu pernafasan pada pemain sepak bola. Debu juga dikeluhkan warga sekitar karena rumah sering kotor,” jlentreh Ketua 3 Persega, Adi Siswanto pada VIVA News. 

Pada kesempatan yang berbeda, penanggung jawab lapangan kontrakror Alen tidak merespon konfirmasi yang diajukan VIVA News. 

Seluruh pertanyaan yang diajukan melalui sambungan percakapan whatsapp diabaikan serta enggan dijawab lebih dari 3x 24 jam. 

Proyek Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai Brantas ini mulai dikerjakan secara fisik pada awal Bulan September 2025. 

Halaman Selanjutnya
img_title