Ayah Timothy Pilih Memaafkan di Tengah Duka, Publik Tersentuh
- https://www.viva.co.id/foto/1855432-tak-punya-hati-timothy-anugerah-korban-bully-yang-bundir-masih-diolok-olok-teman-kampusnya-setelah-meninggal
Jakarta, VIVA Banyuwangi – Duka mendalam menyelimuti Universitas Udayana (Unud), Bali. Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Timothy Anugerah Saputra, ditemukan meninggal dunia. Rabu, 15 Oktober 2025.
Timothy diduga mengakhiri hidupnya usai mengalami perundungan dari rekan-rekannya di kampus.
Kepergian Timothy menyisakan luka bagi keluarga dan teman dekat, sekaligus menggugah empati publik di berbagai media sosial.
Unggahan duka membanjiri linimasa, sementara warganet mengecam keras perilaku perundungan yang dituding menjadi penyebab tragedi ini.
Di tengah kesedihan mendalam, ayah Timothy, Lukas Triana Putra, menunjukkan ketegaran luar biasa.
Dalam wawancara bersama awak media, ia menyampaikan pesan penuh makna tentang memaafkan di tengah duka yang besar.
“Saya sakit hati sekali, tapi saya punya Tuhan yang mengajarkan saya memaafkan orang yang salah.” ujar Lukas. Dilansir dari tvonenews.com
Pernyataan tersebut sontak mengundang simpati warganet.
"Biarkanlah pihak kampus yang melakukan tindakan, dari pihak media sosial juga sudah memberikan mereka sanksi," sambung Lukas. Minggu, 19 Oktober 2025.
Banyak yang menilai ketulusan hati Lukas sebagai cerminan kebesaran jiwa dan kasih sayang seorang ayah.
Sementara itu, pihak Universitas Udayana telah menjatuhkan sanksi kepada empat mahasiswa pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud.
Mereka diberhentikan dari jabatan organisasi, diberi sanksi akademik, dan diwajibkan membuat video permintaan maaf.
Namun, sumber internal kampus menyebutkan jumlah pelaku perundungan diduga lebih dari empat orang, bahkan melibatkan mahasiswa dari fakultas lain.
Di sisi lain, Lukas menegaskan bahwa anaknya tidak memiliki gangguan psikologis seperti yang beredar di publik.
“Semenjak dia di Udayana, dia sudah dinyatakan tidak memiliki gangguan dari psikologinya. Saya juga kaget kenapa diberitakan begitu,” ucap Lukas.
Pihak keluarga kini berharap kasus ini menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan agar lebih tegas terhadap segala bentuk perundungan.