Saluran IPAL RW 4 Wonoasih Terputus, Warga Keluhkan Bau dan Ancaman Pencemaran Jagung

Saluran IPAL Komunal yang terputus
Sumber :
  • Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi

Probolinggo, VIVA BanyuwangiWarga RW 4 Kelurahan Wonoasih Kota Probolinggo mengeluhkan efek samping yang muncul akibat terputusnya saluran Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal yang terputus. Pemutudan saluran tersebut diduga dilakukan akibat keresahan warga RW 5 yang merasa keberatan karena posisi saluran akhir berada di wilayah mereka.

img_title Bahas Keterlibatan TNI dalam Program KDMP dan Sekolah Rakyat, GMNI Dorong Kodim Siapkan Mitigasi Konflik dengan Sipil

RW 5  memiliki saluran IPAL komunal terlebih dahulu, lengkap dengan tempat pembuangannya (septictank). Lalu pada sekira akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023, mulai dipasang saluran pembuangan di RW 4, akan tetapi hanya salurannya saja dan tidak lengkap dengan septictank. Untuk pembuangan akhir tetap di septic tank RW 5. Lalu pada 5 bulan terakhir ini, saluran IPAL komunal RW 4 diputus.

Ladang Jagung yang Bepotensi Tercemar Limbah

Photo :
  • Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi

img_title Bikin Delegasi ASEAN Terpukau, Kampung Nelayan Modern Banyuwangi Disebut Layak Ditiru Negara Lain

“Tinggi dataran RW 4 memang lebih tinggi daripada RW 5, sehingga air tidak mungkin bergerak dari RW 5 ke  RW 4. Hal tersebut mengakibatkan pembuangan berhenti di RW 5,” ujar warga RW 4, Taufiq, kepada Banyuwangi.viva.co.id.

Taufiq juga menjelaskan, akibat saluran yang ditutup, muncul bau tak sedap. Warga juga mengeluhkan adanya luapan air dari saluran IPAL yang tersumbat. Luapan tersebut dikhawatirkan akan mencemari sumur sanyo dan juga ladang jagung miliknya.

img_title Bule Ikut Berlenggak di BEC 2026, Terpukau Kisah Perang Bayu dan Janji Kembali ke Banyuwangi

“Keluarga saya memiliki ladang jagung yang hasil panennya memerlukan uji lab untuk persyaratan penjualan. Karena saluran limbah tidak berfungsi saat ini, dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas jagung dan menyebabkan gagal  uji lab dikemudian hari,” lanjut Taufiq.

Selain ancaman pencemaran, gangguan bau juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Para petani jagung biasanya menjemur jagung mereka dipinggir jalan dan menjualnya pada pembeli yang melintas. Namun sejak bau menyengat muncul, dikhawatirkan warga enggan berhenti di sekitar lokasi.

“Saya tahu ini bukan kesalahan pihak tertentu, akan tetapi mendekati lebaran ini ladang kami mengejar target produksi sebanyak 8 ton. Oleh karena itu saya melapor ke Kelurahan agar ditemukan titik penyelesaiannya. Saya tahu betul hal ini membutuhkan dana yang besar dan perlunya keterlibatan pemerintah,” tutup Taufiq.

Pihak Kelurahan telah melaporkan kronologi permasalahan ini kepada pihak Kecamatan. Saat ini, pihak Kecamatan tengah melakukan upaya untuk melakukam mediasi dengan menghadirkan Dinas Lingkungan Hidup, Keltua KSM selaku pihak pelaksana IPAL komunal, Ketua RT, Ketua RW, serta pihak pelapor.