Pemdes Watukebo Tak Dilibatkan, Proyek Jembatan Berujung Akses Warga Maelang Terputus
- Anton Heri Laksana/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi –Jembatan yang sedianya membantu mobilitas warga Desa Watukebo ternyata justru menyulitkan kehidupan warga. Ironisnya, proyek jembatan yang disebut-sebut merupakan pokok pikiran (Pokir) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tersebut dibangun tanpa sepengetahuan Kepala Desa Watukebo, Maimun.
“Saya tidak mengetahui adanya proyek pembangunan tersebut. lokasinya juga saya tidak mengetahui,” ujar Kepala Desa Watukebo, Maimun.
Pengerjaan proyek di Dusun Maelang, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini diduga cacat administrasi.
Pembuatan jembatan disilnyalir tidak sesuai dengan desaian yang dibuat oleh pihak terkait karena tidak bisa diaplikasikan di lokasi pelaksanaan proyek.
Muncul sebuah indikasi desain jembatan diduga dilakukan tanpa dilakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Saya juga tidak mengetahui kapan proyek tersebut di mulai dan sampai kapan waktu pelaksanaannya,” tutur Maimun pada VIVA News.
Minimnya informasi yang didapatkan Pemerintah Desa (Pemdes) Watukebo diduga akibat tidak adanya jalinan koordinasi dengan pelaksana proyek.
“Seharusnya jika ada pembangunan seperti ini, kami (Pemdes Watukebo) diajak ngomonglah. Kalau seperti ini, kami tidak bisa jawab apa-apa,” kata Kades Maimun di ruang kerjanya.
Perlunya koordinasi dengan Pemdes sangat dibutuhkan karena merupakan penanggung jawab langsung di lapangan.
Pengerjaan proyek jembatan tersebut akan diawasi langsung oleh masyarakat karena Pembangunan jembatan tersebut untuk masyarakat.
“Masyarakat hanya tahu itu proyek Pemdes. Bagi masyarakat, Pemdes pasti mengetahui setiap Pembangunan di Desa. Lha ini, kami benar-benar tidak mengetahuiya. Katanya proyek ini juga hasil Pokir dewan, benar atau tidak saya juga tidak tahu. Tidak ada laporan sama sekali,” tandas Maimun meyakinkan.
Sebuah proyek Pembangunan jembatan di Dusun Maelang, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur diduga asal-asalan.
Pada desain, jembatan yang dibangun seharusnya dengan ukuran 3x3 meter namun ukuran tersebut tidak bisa diaplikasinya di lokasi.
“Saya akhirnya sampaikan pada Pak Slamet (pengawas) dan katanya disuruh menyesuaikan dengan kondisi. Akhirnya ukuran berubah menjadi 5x8 meter,” ungkap seorang pekerja, K.
Pengubahan ukuran ini membuat dana Pembangunan proyek sebesar 97 juta rupiah tidak mampu dikelola dengan baik oleh pelaksana proyek yang bertindak sebagai kontraktor pelaksana CV Bumi Perwira.