Tim PKM UMN Temukan Kisah Haru Bayi 3 Bulan Selamat dari Galodo di Palembayan
- Rizan Hasbullah/ VIVA Banyuwangi
Agam, VIVA Banyuwangi –Di tengah reruntuhan yang tersisa setelah Galodo (Banjir Bandang), tim pengabdian masyarakat Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi menemukan secercah harapan yang terdalam.
Fathan, bayi berusia tiga bulan, berhasil selamat dari amukan galodo yang menyapu rumah dan merenggut nyawa keluarganya di Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan.
Kisah ini terungkap saat Tim Pengabdian Masyarakat dan Satgas Tanggap Bencana Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi melakukan pendataan dokumen kependudukan korban serta pendistribusian logistik di wilayah terdampak terparah.
Di antara daftar nama dan dokumen yang hilang, terselip narasi pilu sekaligus ajaib tentang seorang bayi yang bertahan.
Menurut Wali Nagari Salareh Aia Timur, Ahmad Fauzi, Fathan ditemukan sekitar pada pukul sembilan pagi, sehari setelah bencana.
“Suara tangisnya terdengar sekitar seratus meter dari lokasi rumahnya yang sudah hancur. Itulah Fathan, dalam keadaan selamat yang diselamatkan oleh malaikat,” ujarnya.
Sang ayah sempat ditemukan hidup dengan luka parah dan bercerita bahwa ia sedang menggendong Fathan yang tertidur saat banjir bandang menerjang.
“Sayangnya, keesokan harinya ayahnya berpulang, menyusul ibu, kakak, serta kakek dan neneknya.”
Saat ini, Fathan berada dalam pengasuhan nenek dari pihak keluarga yang selamat. Pemeriksaan medis awal oleh sejumlah dokter relawan menunjukkan kondisi bayi tersebut dalam keadaan baik, tidak ada sesuatu serius yang membahayakan jiwa.
Rektor Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi, Afridian Wirahadi Ahmad, yang turut mengunjungi lokasi, menyebut keselamatan Fathan sebagai sebuah anugerah di tengah duka.
“Doa kita semoga Fathan selalu sehat dan dapat meneruskan perjuangan serta mimpi-mimpi keluarganya yang telah berpulang. Kami juga berharap ada pemeriksaan medis lebih lanjut untuk memastikan kondisi Fathan benar-benar baik, ujarnya.,” tegasnya.
Kisah Fathan bukan hanya sekadar data dalam laporan bencana, melainkan pengingat tentang betapa rapuhnya kehidupan, sekaligus kuatnya semangat untuk bertahan. Di balik lumpur dan reruntuhan, dia menjadi simbol harapan baru bagi seluruh masyarakat yang sedang berjuang bangkit.