Hari Pertama Makan Bergizi Gratis di SDN 1 Bimorejo Diwarnai Keterlambatan dan Jatah Kurang
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Pelaksanaan perdana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, tidak berjalan semulus yang diharapkan. Masalah keterlambatan distribusi dan kurangnya kuota makanan menjadi catatan evaluasi pada hari pertama pelaksanaannya.
Berdasarkan data sekolah, total kebutuhan MBG di SDN 1 Bimorejo adalah 173 porsi, yang mencakup 159 siswa serta 14 guru dan tenaga pendidik. Namun, sekolah hanya menerima sebanyak 135 porsi.
Akibat kekurangan 38 porsi tersebut, sejumlah siswa terpaksa tidak mendapatkan jatah MBG. Dampak paling nyata dirasakan oleh siswa Kelas 6 yang berjumlah 28 anak.
"Kelas 6 tidak dikasih karena hanya ada 4 (Ompreng yang tersedia), jumlah siswanya ada 28, sisanya yang tidak dapat hari ini dijanjikan akan diberikan porsi double besok," ujar Kepala Sekolah SDN 1 Bimorejo, Suyono.
Selain jumlah yang kurang, keterlambatan pengiriman juga menjadi kendala. Makanan baru tiba melampaui jadwal yang diharapkan, sehingga mengganggu ritme belajar-mengajar.
Pihak sekolah akhirnya mengambil langkah untuk mendahulukan memberikan MBG pada siswa yang pulang lebih awal agar tidak menunggu terlalu lama, meski konsekuensinya kelompok siswa yang pulang siang harus mengalah
Kepala SDN 1 Bimorejo, Suyono, menyayangkan kendala ini mengingat pihak sekolah telah mengirimkan data ke SPPG sejak 15 hari yang lalu.
"Sekolah sudah mengirimkan data ke SPPG sejak setengah bulan yang lalu, awalnya mendata lewat whatsapp, terus kesini(ke sekolah), sambil mendata anak yang alergi, tiga hari yang lalu, terus kemarin, 2 kali datang," ungkap Suyono.
Merespons dinamika di hari pertama, Suyono menyampaikan aspirasi dari pihak wali murid dan sekolah kepada penyedia jasa. Ia meminta agar di hari-hari berikutnya, makanan dapat dikirim lebih pagi agar sesuai dengan jam istirahat dan jam pulang siswa kelas awal.
"Kami meminta agar makanan diantar pagi. Ini masukan dari wali murid juga, kasihan kalau anak-anak harus menunggu lama dalam ketidakpastian," pungkasnya.
Momentum awal ini diharapkan menjadi titik balik untuk memastikan setiap porsi makanan sampai ke tangan siswa tepat pada waktunya, sehingga antusiasme anak-anak dalam menyambut program ini tetap terjaga dengan baik.