Dituding Buang-buang Uang, Presiden: MBG Hasil Efisiensi Kalau Tidak Hemat Dimakan Korupsi

Program MBG di Indonesia dituding hambur-hamburkan uang.
Sumber :
  • https://www.bgn.go.id/news/foto/siswa-bantu-distribusi-mbg

Jakarta, VIVA Banyuwangi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Presiden RI Prabowo Subianto banyak menerima kritikan selama masa pelaksanaannya.

img_title Dukung Pangan Lokal, Kemenko Pangan Rancang Aturan Rantai Pasok Bahan Baku Program MBG

Salah satu kritik yang beredar adalah program MBG dinilai sebagai bentuk pemborosan anggaran negara. Melihat kritikan tersebut, Presiden RI memberikan tanggapan melalui agenda Groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Palmerah, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

Kepala Negara menyebut bahwa pendanaan program MBG justru berasal dari hasil penghematan dan efisiensi belanja pemerintah.

img_title Santer Isu Uang Negara Tersisa Rp120 Triliun, Menkeu Purbaya Beri Bantahan: Uang Kita Masih Banyak

“Mereka meramalkan proyek ini (MBG, red), pasti gagal. Program ini menghambur-hamburkan uang,” katanya ketika berpidato.

Melalui pernyataanya, Prabowo mengungkapkan sejak awal peluncuran program MBG dirinya kerap dituduh menghambur-hamburkan uang negara. Kritik tersebut bahkan datang dari sejumlah kalangan terdidik yang meragukan efektivitas program.

img_title BGN Hentikan Sementara 1.780 SPPG Tidak Miliki IPAL hingga Belum Daftar SLHS

Dalam kesempatan itu, Presiden menolak anggapan tersebut dan menegaskan bahwa anggaran MBG diperoleh dari pemangkasan kegiatan yang dinilai tidak produktif.

“Padahal saudara-saudara, uang ini (MBG, red) adalah hasil penghematan, hasil efisiensi dari anggaran yang saya dan tim saya yakin kalau tidak kita hemat, uang ini akan dimakan oleh korupsi, akan dihabis-habiskan untuk memperkaya oknum-oknum pribadi-pribadi,” tegasnya.

Presiden melanjutkan, pemerintah telah mengurangi praktik pemborosan seperti rapat, seminar, dan perjalanan dinas yang tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurut orang nomor satu di Indonesia itu, efisiensi anggaran dilakukan untuk mencegah kebocoran dan potensi korupsi. Efisiensi tersebut juga mengalihkan dana negara ke program yang berdampak nyata bagi rakyat, khususnya kelompok ekonomi lemah.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan publik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun ia menilai program yang menyasar kebutuhan gizi anak-anak dan kelompok rentan seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Lebih lanjut, Presiden juga menjelaskan bahwa kekurangan gizi menyebabkan sel-sel tubuh tidak dapat berkembang secara optimal, termasuk sel otak, tulang, dan otot.

Menurutnya, kondisi stunting juga berkaitan dengan proses pemiskinan yang dialami masyarakat. Saat itu, angka stunting tercatat mencapai sekitar 25 persen dari anak-anak Indonesia.