Kardus Bekas Disulap Jadi Lentera Ramadan, Momen Kecil Ukir Senyuman Anak Gaza

Anak-anak Gaza di pengungsian.
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/children-playing-around-drying-clothes-10350362/

Palestina, VIVA Banyuwangi – Berawal dari sebuah inisiatif mengubah kardus bekas bantuan menjadi lentara Ramadan, momen kecil dan sederhana tersebut mampu membuat senyuman anak-anak Gaza merekah.

img_title Gagal Pastikan Israel-Hamas Patuhi Gencatan Senjata, AS Bakal Tutup Pusat Misinya di Gaza

Banyak inisiatif di seluruh Jalur Gaza menghadirkan momen-momen kecil kebahagiaan bagi anak-anak saat bulan suci Ramadan di wilayah Palestina pada Rabu, 18 Februari 2026.

Bagi banyak warga di Gaza, ini menandai Ramadan ketiga sejak babak terbaru konflik Israel-Palestina meletus pada 7 Oktober 2023.

img_title Pemerintah RI Kecam Keras Pemasangan Spanduk Pasukan Israel di Reruntuhan RS Indonesia Gaza

Terlepas dari gencatan senjata Israel-Hamas yang mulai berlaku pada Oktober 2025 dan kesulitan yang terus berlanjut, penduduk dan seniman berupaya untuk melestarikan semangat bulan ini melalui kegiatan kreatif dan komunal.

Di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Rehan Shorrab yang berusia 33 tahun mengubah kotak kardus kosong, yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, menjadi lampion atau lentara Ramadan yang berwarna-warni.

img_title Kawat Berduri Halangi Anak-anak Masuk Sekolah, Warga Palestina Gelar Sekolah Kebebasan

"Saya kehilangan rumah dan beberapa anggota keluarga, tetapi saya ingin membawa sedikit kebahagiaan kepada anak-anak yang menderita akibat perang," kata Shorrab seperti dilansir dari Xinhua pada Kamis, 19 Februari 2026.

"Ramadan seharusnya tetap membawa kehangatan ke hati mereka,” katanya.

Dia membuat lampion dari kardus, menghiasinya dengan kain yang dikumpulkan dari daerah setempat, dengan hati-hati memotong, membentuk, dan merangkai setiap bagian menjadi pola yang rumit.

Beberapa lentera dipajang di luar tenda miliknya agar anak-anak dapat mengambilnya secara gratis, sementara yang lain dijual untuk membantu menopang kehidupan keluarganya yang beranggotakan lima orang.

"Kebahagiaan yang saya lihat di mata anak-anak ketika mereka membawa lampion memberi saya rasa kepuasan yang tak terlukiskan," katanya.

"Terkadang, hanya mendengar tawa seorang anak membuat saya merasa bahwa semua yang telah saya lakukan itu berharga,” ungkapnya.

Salah satu anak yang mendapatkan manfaat dari karyanya adalah Yasser Bashir, yang menerima lentera secara cuma-cuma atau gratis.

"Lentera itu membuat kami merasa menjadi bagian dari perayaan, bahkan di tengah semua kesulitan di sekitar kami," katanya.

Berbagai upaya serupa juga muncul di Kota Gaza di bagian utara Jalur Gaza, di mana Hussam Ali membuat lentera dari logam bekas dan kayu.

Halaman Selanjutnya
img_title