Ramadhan Jadi Berkah Perajin Petulo Gulung di Jember, Permintaan Naik 200 Persen
- Palupi Ambarwati/ VIVA Banyuwangi
Jember, VIVA Banyuwangi – Bulan Romadhon membawa berkah tersendiri bagi perajin kue tradisional petulo gulung di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Permintaan kudapan jadul ini meningkat tajam hingga 200 persen dibandingkan hari biasa.
Salah satu perajin yang merasakan lonjakan pesanan adalah Amel, warga Jalan Teratai, Jember. Sejak memasuki Romadhon, ia mengaku kewalahan melayani pesanan yang datang dari berbagai kalangan.
“Alhamdulillah, setiap Romadhon permintaan selalu naik. Tahun ini bahkan sampai dua kali lipat lebih dibanding hari biasa,” ujar Amel. Selasa, 24 Februari 2026.
Menurutnya, pembeli petulo gulung tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan perkantoran, organisasi keagamaan, hingga tempat ibadah. Kue ini kerap diburu sebagai sajian takjil untuk berbuka puasa bersama.
Petulo gulung buatan Amel memiliki ciri khas tersendiri. Selain dibentuk dengan cara digulung, kue ini juga hadir dalam beragam warna menarik. Teksturnya lembut dengan tambahan santan bercita rasa nangka yang gurih dan harum saat disantap.
Keunikan tersebut menjadi daya tarik utama bagi pelanggan. Banyak warga menganggap petulo gulung sebagai hidangan yang wajib hadir saat bulan Romadhon.
Salah seorang pembeli, Kholifah, mengaku kurang lengkap rasanya berbuka puasa tanpa petulo gulung. “Rasanya enak dan gurih, sudah jadi favorit keluarga setiap Romadhon,” katanya.
Amel menjual satu bungkus petulo gulung dengan harga Rp12 ribu. Sebagian besar konsumen memesan secara online, meski ada juga yang datang langsung ke kedainya untuk menikmati kue tersebut.
Dalam proses pembuatannya, Amel menggunakan cetakan kayu khusus. Adonan dimasukkan ke dalam cetakan lalu ditekan hingga adonan keluar dari bagian atas cetakan. Setelah itu, petulo mentah dikukus hingga matang, kemudian disajikan dengan kuah santan rasa nangka dan dikemas dalam kotak plastik.
Meningkatnya permintaan selama Romadhon ini menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kue tradisional di Jember, sekaligus menjadi bukti bahwa kuliner jadul tetap diminati di tengah beragamnya pilihan makanan modern.