Iran: Selat Hormuz Terbuka tapi Tidak untuk AS dan Sekutunya
- https://www.youtube.com/watch?v=fZd6q-uqIJw
Iran, VIVA Banyuwangi – Penutupan Selat Hormuz pasca serangan militer Amerika Serikat-Israel terhadap Iran sempat mengguncang negara-negara di dunia. Bukan tanpa sebab, penutupan Selat Hormuz berdampak besar terhadap segala sektor perdagangan dunia.
Setelah disorot berbagai pihak, Komandan Islamic Revolutionary Guard Coprs (IRGC) menegaskan pihaknya tidak menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz disebut dalam kendali Iran dan terbuka bagi kapal tanker serta kapal milik negara lain, kecuali untuk Amerika Serikat dan sekutunya.
Dilansir dari Antara News, Komandan Islamic Revolutionary Guard Coprs/IRGC mengatakan Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi berada di bawah kendali Iran.
Alireza Tangsiri, Komandan IRGC, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa klaim AS mengenai penghancuran angkatan laut Iran atau penyediaan pengawalan aman bagi kapal-kapal tanker minyak tidak benar, lansir kantor berita semiresmi Iran, Tasnim.
"Selat Hormuz tidak ditutup secara militer, melainkan hanya berada di bawah kendali," demikian isi pernyataan tersebut, seperti dilansir dari Antara News.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyampaikan pesan serupa, dengan mengatakan kepada media AS bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional, kecuali untuk kapal-kapal milik AS, Israel, serta sekutu keduanya.
"Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya tertutup bagi kapal tanker dan kapal milik musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka. Yang lain bebas melintas," kata Araghchi.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit strategis yang dilalui sekitar seperlima dari kebutuhan minyak dunia. Dalam pesan pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei berjanji akan mempertahankan pengaruh Iran atas selat tersebut.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu mendesak negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui selat tersebut untuk turut bertanggung jawab menjaga jalur itu tetap terbuka, dengan bantuan Amerika.
Dilaporkan juga bahwa Washington sedang berupaya meredam lonjakan harga minyak di tengah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, yang memicu aksi balasan Iran terhadap aset-aset AS di seantero Timur Tengah.