Ngaku Tak Butuh Bantuan Buka Selat Hormuz, Trump Kini Kesal Sekutu AS Ogah Kirim Kapal
- https://www.instagram.com/p/DVw9VsOETTE/?img_index=1
Amerika Serikat, VIVA Banyuwangi – Konflik di Timur Tengah setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran membawa dampak bagi negara lain di dunia. Salah satunya yang terasa ketika Selat Hormuz kini di bawah kendali Iran.
Kapal-kapal tanker yang melewati Selat Hormuz kesulitan menyeberang hingga memicu kenaikan harga minyak mentah global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa negara dan militernya terkuat di dunia. Untuk itu, ia mengaku tidak membutuhkan negara lain untuk berupaya membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan negara lain dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
“Saya tak mendesak mereka, karena sikap saya adalah, kami tidak membutuhkan siapa pun. Kami adalah negara terkuat di dunia. Kami memiliki militer terkuat di dunia. Kami tidak butuh mereka,” kata Trump kepada wartawan, Senin, 16 Maret 2026.
Dilansir dari Antara News, ia menambahkan bahwa dalam beberapa kasus ia meminta bantuan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk mengetahui bagaimana reaksi negara-negara tersebut.
Selain itu, Trump juga mengeklaim bahwa sejumlah negara telah menyampaikan kesiapan untuk membantu AS membuka Selat Hormuz.
“Beberapa sangat antusias, tetapi beberapa lainnya tidak,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, pada 28 Februari 2026 lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Tak ingin berdiam diri saja, Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut memicu penghentian de facto lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pentng pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan tersebut juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Meski mengaku tak butuh bantuan negara lain, Trump justru mengeluhkan negara-negara yang selama ini ‘dilindungi’ AS tetapi enggan mengirimkan kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz.
“Banyak negara telah memberi tahu saya bahwa mereka sedang menuju lokasi, beberapa sangat antusias, beberapa tidak. Beberapa adalah negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun,” kata Trump pada Senin, 16 Maret 2026.