Pemilik Yayasan Ngaku Cucu Menteri Intimidasi Dua SPPG, BGN: Hentikan Kalau Perlu Selamanya!

llustrasi SPPG di daerah Indonesia.
Sumber :
  • https-//www.bgn.go.id/news/foto/sppg-pasir-putih

Jakarta, VIVA Banyuwangi – Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan reaksi tegas terkait dua Yayasan yang mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Ponorogo, Jawa Timur.

img_title Gandeng Kampus, BGN: MBG Laboratorium Hidup untuk Riset dan Kajian

BGN telah menghentikan sementara atau suspend dua yayasan pengelola SPPG di Ponorogo, Jawa Timur, dan mengaku sebagai cucu dari menteri untuk menekan kepala SPPG, pengawas gizi, hingga pengawas keuangan.

Keputusan tersebut diambil setelah Kepala SPPG Ponorogo Kauman Somorto, Rizal Zulfikar Fikri, bersama Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet, Moch. Syafi'i Misbachul Mufid, menghampiri Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang pada kunjungannya ke Blitar, Jawa Timur.

img_title Dukung Pangan Lokal, Kemenko Pangan Rancang Aturan Rantai Pasok Bahan Baku Program MBG

Kedatangan mereka di hadapan Wakil Kepala BGN ialah untuk meminta perlindungan karena mengaku ditekan dan diintimidasi pengelola SPPG di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara.

"Dua Kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan, ternyata selama berbulan-bulan mereka bersama pengawas gizi dan pengawas keuangan selalu ditekan dan diintimidasi sebuah yayasan yang mengaku dimiliki seorang cucu menteri," kata Nanik S Deyang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2026.

img_title BGN Hentikan Sementara 1.780 SPPG Tidak Miliki IPAL hingga Belum Daftar SLHS

Yayasan yang membawahi kedua SPPG itu disinyalir juga telah merekayasa pembelian bahan pangan.

Dari anggaran Rp10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan yang ditetapkan BGN, mereka hanya membelanjakan Rp6.500 per porsi. Akibatnya, kedua kepala SPPG itu kerap harus nombok atau menutup kekurangan belanja dari kantong pribadi agar menu terlihat pantas.

"Mau enggak mau, kami nombok, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," kata Mufid.

Perbuatan pemilik yayasan yang menaungi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) itu, kata Nanik, sungguh tidak manusiawi dan tidak pantas.

Selama ini, kedua Kepala SPPG itu terus ditekan dan ditakut-takut akan didatangkan polisi atau pengacara jika tidak mengikuti kemauan yayasan. Bahkan semua relawan dan sekolah penerima manfaat pun diminta tanda tangan untuk mengusir kedua kepala SPPG itu.

Mendengar keluhan dan pengaduan kedua kepala SPPG yang sampai menangis malam itu, Nanik langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro untuk menginspeksi kedua dapur itu secara langsung.

Halaman Selanjutnya
img_title