Belajar dari Pengalaman Covid-19, Wakil Ketua Komisi X Tak Setuju Sekolah Kembali Daring Demi Efisiensi

Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti.
Sumber :
  • https://www.instagram.com/p/DMzHBknvDty/?img_index=4

Jakarta, VIVA Banyuwangi – Wacana kegiatan belajar bagi siswa kembali dilaksanakan secara daring menuai kritikan dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti.

img_title Menkeu Purbaya: Ada Ruang Efisiensi Anggaran MBG dari Pagu Rp335 Triliun

Secara tegas, Esti menyatakan tidak setuju soal wacana pembelajaran daring diberlakukan kembali mulai April 2026 demi kebijakan efisiensi atau strategi penghematan energi yang dilakukan pemerintah.

Menurut dia, belajar dari pengalaman pandemi Covid-19, strategi pembelajaran daring kurang efektif bagi siswa sekolah. Dia mengatakan bahwa wacana kebijakan tersebut perlu dikaji lebih mendalam.

img_title Kisah Haru Guru Horoner di NTT, Pilih Tetap Mengajar Meski Gaji Dipotong Jadi Rp223 Ribu per Bulan

“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah Covid-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia Pendidikan kita,” kata Esti dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta pada Senin, 23 Maret 2026.

Dampak yang dimaksud meliputi tantangan kemampuan anak dalam menyerap materi pelajaran, kedisiplinan, pembentukan karakter, kendala teknologi, dan lain sebagainya.

img_title Bantah Pemborosan APBN, BGN: Insentif Rp6 Juta per Hari untuk SPPG Lebih Efisien

“Hal-hal tersebut adalah problem yang tidak sederhana,” kata legislator yang membidangi urusan Pendidikan tersebut seperti dilansir dari Antara News.

Dia menjelaskan bahwa salah satu dampak dari pembelajaran jarak jauh semasa pandemic Covid-19 adalah learning loss, yakni fenomena yang memunculkan keadaan ketika peserta didik malas belajar dan cenderung melupakan sekolahnya.

Kemampuan kognitif pelajar yang semakin menurun pasca kebijakan pembelajaran daring, kata dia, terlihat dari beberapa hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia.

Selain ketertinggalan dalam bidang akademis, seperti learning loss yang dialami para siswa, menurut dia, sistem pembelajaran jarak jauh juga menimbulkan dampak pada aspek psikologis, dan kesehatan fisik anak.

“Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter,” katanya.

Untuk itu, dia mendorong pemerintah dapat mencari solusi lain dalam mengantisipasi dampak kondisi global.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pendidikan anak-anak tidak boleh dikorbankan karena dapat menyebabkan dampak berkepanjangan.

“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia,” kata Esti.