Antisipasi Krisis Energi, Korea Selatan Perketat Rotasi Kendaraan di Hari Kerja
- https://pixabay.com/id/photos/roda-kincir-bendera-korea-selatan-5790088/
Korea Selatan, VIVA Banyuwangi – Penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah kini dampaknya mulai dirasakan beberapa negara di Asia, salah satunya Korea Selatan.
Demi mengantisipasi gangguan pasokan minyak akibat ketegangan di Timur Tengah, Pemerintah Korea Selatan akan memperketat rotasi kendaraan pada hari kerja di sektor publik.
Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan (Korsel) pada Selasa, 24 Maret 2026, menyatakan kebijakan tersebut mulai diterapkan pada Rabu dengan meningkatkan pengawasan terhadap kepatuhan sektor publik.
Sistem pembatasan dilakukan berdasarkan digit terakhir pelat nomor kendaraan yang dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok dilarang beroperasi pada hari kerja tertentu.
Sistem tersebut sebenarnya telah diterapkan, tetapi sebelumnya dijalankan secara longgar.
Kendati sistem pembatasan telah dilakukan, kendaraan listrik dan hidrogen dikecualikan dari pembatasan tersebut.
Kementerian itu akan mendistribusikan pedoman implementasi kepada sektor publik serta mendorong penerapan sanksi bagi lembaga yang tidak mematuhi aturan.
Tak hanya itu saja, Pemerintah Korsel juga menyarankan sektor swasta untuk secara sukarela mengikuti program tersebut.
Jika peringatan krisis sumber daya nasional Level 3 diberlakukan, pemerintah akan mempertimbangkan menjadikannya wajib bagi sektor swasta.
Menurut kementerian, kebijakan itu diambil setelah pemerintah menaikkan status kewaspadaan menjadi Level 2 dalam sistem empat tingkat pekan lalu.
Pemerintah juga meminta 50 perusahaan dengan konsumsi minyak terbesar untuk menyusun rencana penghematan energi.
Insentif akan diberikan kepada perusahaan yang berhasil menurunkan konsumsi energi.
Selain itu, lembaga publik dan perusahaan besar diminta menyesuaikan jam kerja untuk mengurangi beban lalu lintas dan konsumsi energi.
Pemerintah juga akan melonggarkan pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara saat tingkat debu halus rendah.
Selain itu, Korsel mendorong pengoperasian kembali lima reaktor nuklir yang sedang dalam perawatan.
Langkah itu bertujuan mengurangi konsumsi gas alam cair yang terdampak perang di Timur Tengah.
Dikutip dari Al Jazeera, terlepas dari tekanan internasional dan dampak ekonomi yang parah di Asia, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan sikap Iran terhadap Selat Hormuz tidak berubah.
Selain Korea Selatan yang mengalami krisis, Jepang juga terjadi hal yang sama di mana hampir 95 persen minyak Negeri Sakura tersebut mengalir melalui Selat Hormuz.