AS Berniat Lancarkan Serangan Darat, Iran Mobilisasi 1 Juta Lebih Warganya

Ilustrasi Bendera negara Iran.
Sumber :
  • https://pixabay.com/id/photos/bendera-iran-spanduk-2693210/

Iran, VIVA Banyuwangi – Ketegangan di Timur Tengah masih berlanjut ketika Amerika Serikat berencana untuk melakukan serangan darat terhadap Iran.

img_title Belum Temui Titik Terang, AS Tunggu Jawaban hingga Iran Ancam Serang Balik Blokade

Mendengar rencana AS tersebut, Iran mengatakan kesiapannya untuk menyambut kedatangan tentara Amerika Serikat. Iran juga menyinggung para pejuan di negaranya yang memiliki kemampuan tempur cukup baik.

Sementara itu, lebih dari 1 juta warga Iran telah dimobilisasi untuk menghadapi kemungkinan konfrontasi darat dengan pasukan Amerika Serikat (AS). Hal tersebut seperti dilaporkan kantor berita Mehr melaporkan pada Kamis, 26 Maret 2026, mengutip sejumlah sumber.

img_title Khamenei Puji Peran Iran di Selat Hormuz: AS Tidak Punya Tempat Kecuali di Dasar Perairan

Pada Rabu, 25 Maret 2026, harian AS The Wall Street Journal, yang mengutip sejumlah anggota Kongres AS, melaporkan bahwa operasi darat oleh pasukan AS di Iran diduga telah direncanakan dan bisa segera dimulai.

Menanggapi rencana AS untuk melakukan serangan darat, media militer Iran mengatakan lewat platform X, Kamis, 26 Maret 2026, bahwa Iran siap menyambut kedatangan tentara Amerika.

img_title Sekjen PBB Peringatkan Efek Kronis Penutupan Selat Hormuz Berkepanjangan

"Kepada semua prajurit Amerika! Kami harap kalian telah diberi tahu bahwa #IRAN adalah tempat di mana para pejuang Palestina, Lebanon, Irak dan Yaman melatih kemampuan tempur darat secara sangat profesional!" tulis media itu. "Selamat datang di Iran, kawan!"

Sebagaimana diketahui, pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

Tak ingin berdiam diri, Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

AS dan Israel awalnya mengeklaim "serangan pendahuluan" itu diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran. Tetapi kemudian AS-Israel mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama operasi militer AS-Israel. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional, menurut laporan RIA Novosti seperti dikutip oleh Sputnik.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam operasi AS-Israel dan menyerukan deeskalasi segera serta penghentian permusuhan.