Inovasi Alkes Perlu Dipercepat, Kemenkes-BPOM Kolaborasi Hilangkan TB
- https://pixabay.com/id/photos/masker-masker-operasi-virus-4898571/
Jakarta, VIVA Banyuwangi – Angka kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia masih tergolong tinggi dalam satu tahun terakhir. Hal itu mendorong adanya percepatan inovasi alat-alat kesehatan untuk menghilangkan TB.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan menyebutkan perlunya penguatan regulasi, percepatan inovasi kesehatan, serta pengembangan produk kesehatan dalam negeri, salah satunya Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk deteksi tuberkulosis.
Dilansir dari Antara News, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, beban tuberkulosis di Indonesia masih tinggi, dengan sekitar 867 ribu kasus terdiagnosis dalam satu tahun terakhir.
“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,” kata Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Dia menilai pentingnya efisiensi dalam pengembangan teknologi kesehatan, khususnya pada aspek diagnostik, termasuk IGRA atau tes darah untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis. Dia juga menekankan pentingnya pengawalan lintas sektor terhadap inovasi yang tengah dikembangkan.
“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes juga menyoroti proses di BPOM yang dinilai semakin cepat dan responsif. Hal senada diutarakan perwakilan industri, termasuk Biofarma, yang menyampaikan bahwa proses yang sebelumnya sempat mengalami kendala kini berjalan lebih lancar.
Selain itu, BPOM juga mendorong pengembangan obat berbasis bahan alam sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional melalui pendekatan riset dan hilirisasi.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa potensi bahan alam Indonesia masih sangat besar dan dapat terus dikembangkan.
"Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri," ujar Taruna.
Menurutnya, peningkatan nilai tambah menjadi kunci dalam penguatan industri farmasi nasional, seiring besarnya potensi ekonomi bahan alam Indonesia yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.
“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” katanya..