Ratusan Warga Padati Nobar Film 'Pesta Babi' di Untag Banyuwangi, BEM: Ini Pesan Solidaritas untuk Papua
- Dokumentasi Kabinet ANTARA BEM UNTAG Banyuwangi/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Ratusan pasang mata memenuhi area Kampus Untag 45 Banyuwangi pada Rabu, 13 Mei 2026 malam. Kehadiran ratusan warga adalah untuk menyaksikan pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag 45 Banyuwangi.
Acara nonton bareng (nobar) yang dimulai sekira pukul 20.00 WIB ini berlangsung khidmat, terlihat warga, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya sangat antusias dalam nobar ini. Film "Pesta Babi" sendiri merupakan karya dokumenter yang memotret realitas sosial dan dinamika di tanah Papua, yang belakangan menjadi sorotan di berbagai kalangan akademisi.
Presiden Mahasiswa BEM Untag 45 Banyuwangi, Rofi'uddin Rohmatulloh, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar hiburan semata. Nobar ini digelar sebagai bentuk reaksi atas adanya upaya pembubaran kegiatan serupa di beberapa universitas lain di Indonesia.
"Tujuan kita menggelar ini karena melihat kawan-kawan mahasiswa di universitas lain, terutama yang (kegiatannya) dibubar-bubarkan. Kami di sini ingin menunjukkan solidaritas," ujar Rofi’uddin saat ditemui di lokasi acara.
Ia menambahkan bahwa semangat mahasiswa tidak akan surut meski menghadapi tantangan birokrasi atau represi.
"Jika perjuangan itu dibunuh satu, maka tumbuh seribu. Kami ingin menunjukkan hal tersebut melalui ruang-ruang diskusi seperti ini," tegasnya.
Senada dengan Rofi'uddin, Wakil Presiden Mahasiswa BEM Untag 45 Banyuwangi, Tanaka Valentino Pahlevi, menyebutkan bahwa pemutaran film ini adalah jembatan empati antara mahasiswa di Jawa dengan masyarakat di Papua.
Menurut Valent, mahasiswa memiliki kewajiban moral untuk memahami isu-isu kemanusiaan dan pengurangan hak-hak yang terjadi di wilayah paling timur Indonesia tersebut.
"Harapannya, keinginan rekan-rekan di Papua bisa kita rasakan juga. Kita yang di Jawa harus ikut memperjuangkan teman-teman yang hak-haknya dikurangi di Papua," tutur Tanaka.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa melalui dokumenter "Pesta Babi", mahasiswa diajak untuk merefleksikan berbagai bentuk penindasan yang masih terjadi.
"Ini adalah bentuk refleksi agar kita mengerti dan memiliki dasar untuk sama-sama membela keadilan," pungkasnya.
Hingga acara berakhir, diskusi mengalir hangat di antara para penonton. Nobar ini membuktikan bahwa kampus tetap menjadi oase bagi kebebasan berpendapat dan pusat gerakan intelektual dalam mengawal isu-isu nasional, tak terkecuali Papua.