Wujud Solidaritas untuk Papua, Ratusan Mahasiswa Padati Nobar Film 'Pesta Babi' di Untag Banyuwangi

Suasana Nobar Pesta Babi di Untag Banyuwangi
Sumber :
  • Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi

Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Suasana malam di Kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi tampak berbeda pada Rabu, 13 Mei 2026. Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus memadati area kampus untuk menghadiri nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul "Pesta Babi".

img_title Tips Memilih Hotel yang Nyaman dan Murah untuk Liburan atau Perjalanan

Acara yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag 45 Banyuwangi ini dimulai sekira pukul 20.00 WIB. Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya lokasi acara, menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan yang diangkat dalam film tersebut.

Presiden Mahasiswa BEM Untag 45 Banyuwangi, Rofi'uddin Rohmatulloh, menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pemutaran film biasa. Nobar ini merupakan bentuk solidaritas terhadap gerakan mahasiswa di berbagai universitas lain yang sempat mengalami pembungkaman atau pembubaran saat mencoba menyuarakan isu serupa.

img_title Tips Membeli Motor Bekas Berkualitas agar Tidak Salah Pilih

"Tujuan kami menggelar ini karena melihat kawan-kawan mahasiswa di universitas lain, terutama yang (acaranya) dibubar-bubarkan. Kami di sini ingin bersolidaritas," ujar Rofi'uddin di sela-sela acara.

Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan mahasiswa tidak akan padam meski menghadapi berbagai rintangan.

img_title Cara Membeli Rumah Pertama dengan Gaji UMR Melalui KPR

"Jika perjuangan itu dibunuh satu, maka akan tumbuh seribu. Itulah yang ingin kami tunjukkan malam ini," imbuhnya dengan tegas.

Film "Pesta Babi" sendiri memotret realitas kehidupan dan dinamika sosial di Papua. Melalui karya dokumenter ini, BEM Untag Banyuwangi mengajak mahasiswa untuk lebih peka dan peduli terhadap hak-hak masyarakat Papua yang sering kali terabaikan.

Wakil Presiden Mahasiswa BEM Untag 45 Banyuwangi, Tanaka Valentino Pahlevi, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa di Pulau Jawa untuk ikut merasakan apa yang dialami oleh masyarakat di ujung timur Indonesia.

"Harapannya, apa yang dirasakan rekan-rekan di Papua, kita juga harus ikut merasakan. Kita yang berada di Jawa harus ikut memperjuangkan teman-teman yang hak-haknya dikurangi di Papua," tutur Tanaka.

Menurutnya, pemutaran film ini sangat penting untuk membuka mata mahasiswa mengenai bentuk-bentuk penindasan yang masih terjadi.

"Nobar ini merefleksikan bentuk-bentuk penindasan yang ada di Papua agar kita mengerti dan sama-sama membela," pungkasnya.

Hingga acara berakhir, diskusi hangat terjadi di antara para penonton. Kegiatan ini membuktikan bahwa kampus tetap menjadi oase bagi kebebasan berpendapat dan ruang dialektika untuk membela hak asasi manusia di Indonesia.