Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Bakal Hadir pada Diskusi Publik BEM Untag Banyuwangi
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (BEM UNTAG 45) Banyuwangi melalui Kabinet ANTARA akan menggelar Diskusi Publik bertema "Peran Pemuda dalam Mengkritisi Kebijakan Publik di Tingkat Lokal dan Nasional" pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 13.00 WIB, bertempat di Auditorium Untag 45 Banyuwangi. Salah satu narasumber yang akan hadir adalah Tiyo Ardianto, Mantan Presiden Mahasiswa (Mapres) BEM Universitas Gadjah Mada (UGM).
Forum diskusi tersebut menghadirkan delapan narasumber dari berbagai elemen strategis, mulai dari pejabat pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga tokoh aktivis mahasiswa yang dikenal vokal di tingkat nasional.
Akan hadir Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi I Made Cahyana Negara, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan, dan Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arm Tryadi Indrawijaya.
Sementara dari elemen mahasiswa, forum ini secara khusus menghadirkan Tiyo Ardianto, Mantan Presiden Mahasiswa (Mapres) BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025–2026. Tiyo merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat UGM asal Kudus, Jawa Tengah, dengan latar belakang pendidikan yang tidak biasa, ia menempuh jalur nonformal melalui Paket C sebelum berhasil diterima di salah satu universitas paling bergengsi di Indonesia.
Selama memimpin BEM UGM, Tiyo dikenal sebagai salah satu aktivis mahasiswa paling vokal di tingkat nasional. Ia menyuarakan sejumlah isu strategis, mulai dari hak dasar pendidikan anak, dugaan pergeseran anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga revisi Undang-Undang TNI. BEM UGM di bawah kepemimpinannya bahkan mengirimkan surat terbuka kepada UNICEF menyusul meninggalnya seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur yang diduga tidak mampu membeli perlengkapan sekolah.
Tiyo juga dikenal dengan sikapnya yang tegas menjaga independensi gerakan mahasiswa. Ia memilih mundur dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) karena menilai forum tersebut tidak lagi mencerminkan semangat perjuangan mahasiswa yang bebas dari pengaruh kekuasaan. Bahkan saat mendapat undangan resmi untuk bertemu Presiden di Istana, Tiyo memilih menolak dan lebih mengusulkan dialog terbuka agar suara rakyat dapat tersampaikan secara utuh kepada publik, bukan di ruang tertutup.