Datang Jauh dari Madura, Santri Pamekasan Sabet Juara 3 LKTI Untag Banyuwangi Lewat Aplikasi Edukasi Hukum "Verifika"

Guru Pendaming Moh Atoillah Abwa dan Moh Atoillah Abwa
Sumber :
  • Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi

Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Jarak ratusan kilometer melintasi selat tak menyurutkan langkah seorang pemuda asal Pulau Garam untuk menorehkan prestasi di ujung timur Pulau Jawa. Moh Atoillah Abwa, pelajar dari MA Sumber Bungur, Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura, berhasil memukau dewan juri dan menyabet gelar Juara 3 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) 2026 se-Jawa Timur.

img_title Dipilih Kemenko Pangan, Banyuwangi Jadi Percontohan Sistem Pemantauan Beras Nasional

Kompetisi bergengsi bertajuk "Peran Generasi Muda dalam Menegakkan Kesadaran Hukum di Era Digital" ini diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Babak final presentasi 10 besar yang digelar pada Minggu, 7 Juni 2026 menjadi panggung pembuktian bagi pemuda yang akrab disapa Atho' tersebut.

Di hadapan para juri, pemuda asal Kecamatan Palengaan, Pamekasan ini mempresentasikan sebuah gagasan inovatif berupa rancangan platform edukasi hukum digital yang ia beri nama "Verifika". Menariknya, platform ini tidak hanya berisi teks hukum, melainkan diintegrasikan dengan sistem game (permainan) edukatif.

img_title Pilihan Anime Terbaik untuk Pemula yang Mudah Dipahami dan Seru

Atho' menjelaskan, inovasi ini lahir dari keresahannya melihat metode pembelajaran hukum dan kewarganegaraan saat ini yang kurang diminati oleh anak muda.

"Selama ini, pelajaran yang didapatkan para remaja itu masih kaku dan membosankan. Jadinya saya berinisiatif untuk membuat rancangan baru. Melalui Verifika, platform belajar ini disisipkan game, sehingga para remaja nantinya bisa memahami hukum digital sambil bermain," papar Atho'.

img_title Urutan Menonton Film Marvel Berdasarkan Timeline Kronologis MCU

Sebagai siswa yang menimba ilmu di sekolah berbasis pesantren, ia memiliki keterbatasan akses dibandingkan pelajar pada umumnya.

Atho' mengakui bahwa proses perumusan ide dan pengembangan purwarupa "Verifika" benar-benar menguji ketangguhannya.

"Kesulitannya ada di alat, bahan, dan waktu. Soalnya sekolah saya berbasis pesantren, jadi sangat sulit untuk menentukan dan membagi waktunya," Ungkap Atho'.

Namun, rekam jejaknya yang sudah terbiasa mengikuti ajang riset sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) membuatnya tak mudah menyerah. Selain itu, dorongan moral yang kuat dari pihak sekolah menjadi bahan bakar utamanya untuk terbang ke Banyuwangi.

"Saya rela jauh-jauh dari Pamekasan ke Banyuwangi karena memang mencari pengalaman. Selain itu, saya dapat dukungan langsung dari Kepala Sekolah. Beliau bahkan sudah berjanji jika saya lolos ke final akan dikawal langsung ke Banyuwangi, meskipun pada hari H beliau ternyata berhalangan hadir," ujarnya bercerita.

Halaman Selanjutnya
img_title