Mafindo Uji Implementasi AIGTS Volume 2 di Banyuwangi, Guru Antusias Belajar Literasi AI
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Banyuwangi didapuk sebagai tuan rumah perdana pilot project program lanjutan Kelas Kecerdasan Artifisial, AI Goes to School (AIGTS) Versi 2.0. Digelar di SMPN 1 Kalibaru pada Kamis, 11 Juni 2026, kegiatan ini sukses memfasilitasi puluhan guru dari berbagai sekolah di kawasan tersebut.
Program Manager AIGTS Mafindo, Violita, memaparkan bahwa dipilihnya Mafindo Wilayah Banyuwangi didasarkan pada rekam jejak gemilang penyelenggaraan AIGTS versi pertama di wilayah ujung timur Pulau Jawa ini.
Program Manager AIGTS, Violita
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
"Banyuwangi ini merupakan salah satu wilayah penyelenggara terbaik di AIGTS versi pertama. Walaupun terbilang wilayah baru di Mafindo, namun pencapaiannya, baik target peserta maupun penyelesaian Learning Management System (LMS), ternyata sangat bagus dan sangat tinggi," terang Violita.
Violita menjelaskan, pilot project yang digawangi oleh relawan Mafindo Wilayah Banyuwangi ini bertujuan untuk mengevaluasi sekaligus menetapkan standar operasional pelaksanaan program AIGTS 2.0 secara nasional.
"Harapannya, melalui pilot project hari ini, kita mempunyai standar yang baru dan formulasi yang lebih baik untuk penyelenggaraan kegiatan AIGTS Versi 2.0 di seluruh wilayah Mafindo di Indonesia, agar lebih bermanfaat bagi Bapak/Ibu guru," paparnya lebih lanjut.
Pelatihan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini mendulang antusiasme tinggi dari para pendidik. Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Kalibaru, Mahmudi, yang menjadi salah satu peserta, menyatakan apresiasinya terhadap pelatihan ini.
Ketua K3S Kecamatan Kalibaru, Mahmudi
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
"Biasanya dalam sebuah event pelatihan, setelah jam istirahat siang peserta tinggal separuh. Tapi hari ini (peserta) tidak berkurang signifikan. Ini menandakan mereka sangat berminat terhadap perkembangan kekinian AI," ujar Mahmudi.
Lebih dari sekadar pengenalan teknologi, Mahmudi menyoroti korelasi erat antara penggunaan AI dan literasi digital yang menjadi fokus utama Mafindo. Menurutnya, tantangan terbesar bagi guru saat ini adalah maraknya informasi palsu (hoaks) yang tersebar luas.
"Kita sebagai guru merupakan benteng bagi anak-anak bangsa. Kita harus bisa menyampaikan informasi yang benar dan menggunakan AI dengan bijak, tidak untuk memprovokasi atau membuat kegaduhan. Jangan sampai ini terjadi," tegasnya.