Dari Investasi Rp18,45 Miliar hingga Target PAD, Ini Evaluasi Awal DPRD Terhadap BTT Perseroda
- Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi
Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Komisi II DPRD Kota Probolinggo melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan Bahari Tanjung Tembaga (BTT) Perseroda Kota Probolinggo yang baru berjalan sekitar enam bulan pada hari kamis, 18 Juni 2026. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat langsung penggunaan penyertaan modal pemerintah daerah yang mencapai Rp18,45 miliar.
Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Riyadlus Solihin, mengatakan pengawasan dilakukan agar penggunaan anggaran daerah dapat berjalan sesuai rencana dan aturan yang berlaku. Menurutnya, sejauh ini perkembangan BTT masih berada pada jalur yang diharapkan.
“Dari hasil pemantauan, progresnya cukup baik dan masih sesuai perencanaan awal,” ujarnya.
Riyadlus menjelaskan, DPRD juga akan menjadikan hasil evaluasi ini sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan lanjutan terkait pencairan penyertaan modal berikutnya. Skema pencairan disebut masih bisa dilakukan bertahap atau disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan usaha.
Komisi II mendengarkan pemaparan dari pihak BTT
- Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi
Meski sebagian dana masih tersisa, kondisi tersebut dinilai wajar karena perusahaan masih dalam tahap penyesuaian dan penguatan operasional. Komisi II juga mendorong agar pengembangan usaha BTT dapat dipercepat.
“Masih ada dana yang belum terserap, tapi itu karena prosesnya bertahap dan mengikuti aturan,” tambahnya.
Dari sisi kinerja keuangan, BTT Perseroda tercatat masih mengalami rugi berjalan sekitar Rp750 juta. Namun DPRD menilai hal tersebut masih normal mengingat usia perusahaan yang masih sangat baru.
“Kalau perusahaan baru, apalagi baru enam bulan, kondisi seperti ini masih bisa dimaklumi,” kata Riyadlus.
Meski begitu, DPRD tetap optimistis BTT memiliki potensi untuk berkembang. Bahkan, perusahaan daerah tersebut diproyeksikan sudah mampu memberikan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) pada awal 2027.
“Targetnya sekitar Rp200 juta PAD di 2027. Itu dinilai realistis jika operasional berjalan optimal,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur BTT Perseroda Kota Probolinggo, Noviyadi, menjelaskan bahwa operasional penuh perusahaan baru dimulai pada pertengahan 2026 setelah seluruh persiapan regulasi selesai dilakukan.
Saat ini, BTT telah mengoperasikan lima unit kendaraan yang digunakan untuk mendukung layanan usaha. Menurutnya, kondisi rugi di awal operasional merupakan hal yang biasa karena perusahaan masih dalam tahap investasi dan pengembangan.