Rakyat Makin Sulit, Sekretaris DPC GMNI Banyuwangi Tuntut Revolusi Kebijakan Negara

Sekretaris DPC GMNI, Yohanes Mifta saat Orasi di Depan Pemkab Banyuwangi
Sumber :
  • Istimewa/ VIVA Banyuwangi

Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Gelombang aksi unjuk rasa Aliansi Banyuwangi Menggugat di depan Kantor DPRD dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi pada Jumat, 19 Juni 2026 kemarin, menjadi panggung penyampaian kritik keras terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai semakin jauh dari kebutuhan rakyat.

img_title Langkah-Langkah Mengganti Ban Mobil Kempes di Pinggir Jalan

Massa aksi secara tajam menyoroti persoalan ekonomi yang membebani masyarakat, tingginya harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, ketimpangan pendidikan, hingga penggunaan anggaran negara yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan publik.

Sekretaris DPC GMNI Banyuwangi, Yohanes Mifta Gadi, dalam orasinya secara lantang mempertanyakan keberpihakan pemerintah dan wakil rakyat terhadap kondisi masyarakat yang saat ini menghadapi tekanan ekonomi berat.

img_title Cara Memperbaiki Kipas Angin Mati Total & Putaran Lemah

“Ketika rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup, ketika pedagang kecil berjuang bertahan, ketika pendidikan masih menyisakan ketimpangan akses, lalu di mana keberpihakan negara dan wakil rakyat yang dipilih oleh masyarakat?” tegas Yohanes di hadapan massa aksi.

Menurutnya, pemerintah seharusnya menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama. Namun realitanya, banyak kebijakan yang dinilai tidak mampu menjawab kebutuhan mendesak masyarakat di bawah.

img_title Cara Mengatasi HP Android Lemot dan Cepat Panas Tanpa Root

Anggaran negara seharusnya lebih difokuskan pada sektor yang berdampak langsung, seperti pendidikan, penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi kerakyatan, serta peningkatan kesejahteraan. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, mereka juga mengkritisi sejumlah program pemerintah yang dianggap menghabiskan anggaran besar namun tak memberikan dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat.

"Kami melihat rakyat diminta terus bersabar, sementara persoalan mendasar belum terselesaikan. Pendidikan harus diperkuat, ekonomi rakyat harus diselamatkan, dan setiap rupiah uang negara harus kembali untuk kepentingan rakyat, bukan untuk program yang jauh dari kebutuhan masyarakat,” ujar Yohanes.

Aksi ini bukan sekadar bentuk kritik, melainkan sebuah peringatan keras bahwa suara rakyat tidak boleh diabaikan oleh penguasa.

"Hari ini mahasiswa tidak lagi datang untuk meminta. Terlalu banyak janji yang disampaikan, terlalu banyak persoalan yang dibiarkan. Hari ini mahasiswa bukan lagi meminta demokrasi, tetapi menuntut revolusi. Revolusi dalam keberpihakan, revolusi dalam kebijakan, dan revolusi dalam cara negara melayani rakyat!” serunya yang langsung disambut gemuruh sorakan massa.

Halaman Selanjutnya
img_title