Banyuwangi Jadi Kiblat Industri Kayu Berkelanjutan bagi 16 Negara Dunia!
Minggu, 28 Juni 2026 - 08:36 WIB
Sumber :
- Dok. Humas Pemkab Banyuwangi/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi –Sebanyak 36 delegasi dari 16 negara berkumpul di Banyuwangi mengikuti Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber yang digelar antara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University.
Baca Juga
Di Banyuwangi mereka akan mempelajari berbagai praktik pengelolaan pertanian dan perkebunan, terutama industri kayu di Banyuwangi selama 4 hari (24–27/06/2026).
Kegiatan ini mendapatkan pendanaan hibah dari Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) dan diikuti oleh perwakilan pemerintah serta pemangku kepentingan sektor kehutanan dari 16 negara sehaluan (Like-Minded Countries/LMCs).
Para delegasi berasal dari Argentina, Brazil, Guatemala, Bolivia, Colombia, Ecuador, Mexico, Ghana, Honduras, Dominican Republic, Nigeria, Saint Lucia, Pantai Gading, Papua New Guinea, Malaysia, dan Thailand.
Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kemlu RI Erma Rheindrayani, menjelaskan bahwa peserta berasal dari unsur pemerintah, akademisi, diplomat, hingga pelaku usaha yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor pertanian dan perkebunan berkelanjutan, khususnya industri pengolahan kayu.
"Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya. Pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao," kata Erma saat diterima Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Banyuwangi. Rabu, 24 Juni 2026.
Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, mengatakan bahwa program peningkatan kapasitas ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong pertukaran pengalaman, memperkuat jaringan kerja sama, serta mengembangkan kolaborasi antarnegara dalam menghadapi tantangan keberlanjutan di sektor kehutanan dan perdagangan kayu global.
“Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan kayu dan produk finishing kayu di Indonesia seperti Milan,” ujarnya.
Salah satu topik utama yang akan dibahas adalah implementasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), yang telah menjadi instrumen nasional dalam menjamin legalitas, ketertelusuran (traceability), dan keberlanjutan produk kayu Indonesia.
Halaman Selanjutnya