Lewat Gotong Royong, Warga Bakungan Banyuwangi Sulap Sampah Jadi Berkah Ekonomi

Warga Kelurahan Bakungan Banyuwangi Miliki Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
Sumber :
  • Dok. Humas Pemkab Banyuwangi/ VIVA Banyuwangi

Banyuwangi, VIVA Banyuwangi –Di tengah tantangan persoalan sampah yang dihadapi banyak daerah, warga Kelurahan Bakungan, Banyuwangi, menunjukkan bahwa sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan akhir.

img_title Banyuwangi Ekspor 270 Ton Sarden Senilai Rp10 Miliar ke Berbagai Negara

Dengan pengelolaan yang dilakukan secara mandiri dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, sampah rumah tangga di Bakungan mampu diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung kebersihan lingkungan.

Kelurahan Bakungan dikenal sebagai salah satu wilayah yang aktif mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
img_title Rangkaian Banyuwangi Ethno Carnival 2026 Dimulai 17 Juli, Angkat Heroisme Perang Bayu
 
KSM Joger Blambangan mengelola Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) tersebut sejak Juni 2023 dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari warga, pemuda karang taruna, tokoh masyarakat, hingga ibu-ibu PKK.
img_title Pusat Penetasan Telur Penyu di Banyuwangi, Satu-satunya di Indonesia dengan Kapasitas 20 Ribu Butir
 
Warga diedukasi pengolahan sampah mulai dari dibiasakan dengan memilah sampah dari rumah. Memilah mana yang organik dan anorganik 
 
“Sampai sekarang terus kami edukasi. Tidak mudah, tapi harus terus dibiasakan dari skala rumah. Agar memudahkan petugas di TPS untuk mengolahnya,” cerita Plt. Lurah Bakungan Prasetyo Suhartono kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat mengunjungi lokasi tersebut. Minggu, 7 Juni 2026. 
 
Prasetyo menjelaskan, TPS 3R Omah Olah Sampah saat ini melayani sekitar 3.000 warga.
 
Layanan yang diberikan mencakup pengambilan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik dan anorganik, produksi berbagai hasil olahan sampah, hingga edukasi pengelolaan sampah bagi masyarakat.
 
Setiap hari, TPS 3R tersebut menangani sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah rumah tangga.
 
Dari jumlah tersebut, sekitar dua kuintal sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah.
 
"Sampah organik yang telah dipilah kami manfaatkan untuk pakan maggot, kompos, dan pupuk organik cair. Maggot kemudian digunakan sebagai pakan ternak seperti ayam, bebek, dan lele yang juga dibudidayakan oleh KSM, serta dijual kepada masyarakat," beber Prasetyo.
 
Hal itu mendapat apresiasi dari Bupati Ipuk karena level kelurahan mampu mengolah sampah warganya secara mandiri. 
 
"Bakungan ini menjadi contoh bagaimana persoalan sampah bisa diselesaikan dari tingkat kelurahan. Kuncinya ada pada kepedulian dan gotong royong warga. Ini adalah praktik baik yang bisa direplikasi di desa lain," kata Ipuk.
Halaman Selanjutnya
img_title