Tasyakuran Adat Teluk Pang-pang Tegalpare, Tradisi Syukur yang Terus Dijaga Masyarakat Pesisir
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Tasyakuran adat Teluk Pang-pang Tegalpare menjadi tradisi tahunan masyarakat yang dilaksanakan setiap tanggal 16 Sura, setelah rangkaian Petik Laut Muncar berakhir.
Ritual tersebut dipusatkan di Pondok Pedanyangan, Teluk Pang-pang, Tegalpare, sebagai ruang kultural yang selama ini menjadi tempat masyarakat pesisir menjaga ingatan terhadap warisan leluhur.
Di kawasan pesisir Teluk Pang-pang, sejarah tidak hanya tersimpan dalam catatan atau prasasti, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat melalui doa, laku budaya, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi yang terus dipertahankan ialah tasyakuran adat Teluk Pang-pang. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi dan laut yang dinikmati masyarakat.
Adat tersebut telah berlangsung dari tahun ke tahun dan berakar dari pandangan leluhur yang memaknai alam tidak hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga ruang sakral untuk menautkan rasa syukur dan harapan.
Pelestarian adat ini kembali mendapat perhatian pada tahun 2018 ketika tokoh adat masyarakat yang dikenal dengan sapaan Gus To mempelopori kembali ritual larung sesaji di Teluk Pang-pang.
Dengan kesadaran menjaga identitas budaya, Gus To mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi tasyakuran sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Rangkaian ritual dimulai dari kediaman tokoh adat di kawasan Pondok Pedanyangan. Warga membawa hasil pertanian, hasil laut, nasi ambengan, hasil kebun, hingga hasil tangkapan laut sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diperoleh bersama.
Seluruh hasil bumi dan laut tersebut kemudian ditempatkan dalam sebuah miniatur perahu berukuran cukup besar.
Prosesi arak-arakan berlangsung khidmat sekaligus meriah. Dengan semangat gotong royong, masyarakat mengusung perahu sesaji menuju pesisir pantai.
Arakan tersebut diiringi tabuhan baleganjur serta tarian gandrung yang menyatukan unsur seni, doa, dan kebersamaan dalam satu rangkaian ritual.
Setelah tiba di pantai, masyarakat bersama sesaji berangkat menuju Teluk Pang-pang menggunakan perahu.
Prosesi puncak dilaksanakan di tengah laut dengan melarung miniatur perahu berisi hasil bumi, hasil kebun, dan hasil laut sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keberkahan.