Terungkap! Jejak Digital dan Chat Aplikasi Omi Ungkap Dugaan Awal Kasus Siti Munawaroh
- dok. Polsek Bantaran/ VIVA Banyuwangi
Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Kasus penemuan mayat perempuan di dalam sumur di wilayah Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, mulai terkuak melalui rangkaian jejak terakhir korban, termasuk keterangan keluarga dan dugaan komunikasi melalui aplikasi perkenalan.
Korban diketahui bernama Siti Munawaroh, warga Kecamatan Bantaran yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak akhir Mei 2026. Keluarga menyebut, sebelum hilang korban sempat meninggalkan rumah untuk membeli makanan dan tidak pernah kembali.
Nenek korban, Suhana, menceritakan bahwa sebelum kejadian, korban sudah sekitar satu bulan tidak tinggal di rumah suaminya di Besuk dan sempat kembali ke rumah orang tuanya di Bantaran bersama dua anaknya yang masih kecil.
“Sudah sekitar sebulan dia keluar dari rumah suaminya. Anaknya, umur dua tahun sama lima tahun dibawa juga. Ya biasa, selalu ada permasalahan di rumah tangga. Cuma gak kembali ke suaminya karna biasanya dijemput mertua. Kok ini gak dijemput, yasudah akhirnya gak kembali,” kata Suhana.
Suhana menambahkan, pada hari kejadian korban sempat berpamitan untuk keluar rumah menggunakan sepeda motor milik keluarga.
“Dia bilang mau beli Geprek Bromo di Kanigaran pakai motor adiknya,” ujarnya.
Suhana menyebut korban masih sempat berkomunikasi dengan keluarga saat berada di luar rumah.
“Dia sempat telepon ke keluarga suaminya, bilang bingung jalan. Tapi setelah itu HP-nya masih aktif sampai sekitar jam 10 malam, habis itu sudah tidak ada kabar lagi,” tambahnya.
Tante korban, Nur Hidayah, mengatakan bahwa beberapa hari setelah korban dinyatakan hilang, pihak kepolisian menginformasikan bahwa sepeda motor korban ditemukan di wilayah Paiton.
“Setelah tiga hari hilang, polisi bilang motor sudah ditemukan di Paiton, dekat Kraksaan,” ujarnya.
Dari situ, keluarga kemudian mengingat adanya cerita korban yang pernah mengenal seorang laki-laki dari aplikasi perkenalan online.
“Dia pernah cerita kenal laki-laki dari aplikasi Omi. Bahkan pernah kirim screenshot chat ke ponakan suaminya. Memang mereka dekat,” kata Nur Hidayah.
Dalam percakapan tersebut, korban disebut diajak untuk datang ke Kraksaan dengan iming-iming uang dan pertemuan singkat.
“Isinya itu diajak ke Kraksaan, katanya dikasih Rp500 ribu, diminta ketemu orang tua laki-lakinya sebentar saja,” ujarnya.