Dipicu Cerita Sang Cucu, Pria Lansia Nekat Serang Honorer di Lingkungan Sekolah di Probolinggo

Petugas saat mengamankan tersangka
Sumber :
  • dok. Polsek Bantaran/ VIVA Banyuwangi

Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Suasana SDN 3 Bantaran, Kabupaten Probolinggo, mendadak geger setelah seorang honorer menjadi korban penganiayaan menggunakan senjata tajam pada Sabtu, 18 Juli 2026 pagi. Peristiwa yang terjadi di ruang guru itu diduga dipicu cerita cucu pelaku yang merasa tidak nyaman saat bekerja di sekolah tersebut.

img_title AISNU Jatim Perluas Program SABDA AI, Guru TK hingga SMP di Lamongan Dibekali Literasi Artificial Intelligence


Korban diketahui bernama Nali, honorer yang bertugas sebagai operator sekolah. Sementara pelaku adalah Mistar, seorang petani yang merupakan kakek dari Hakim, honorer lain yang juga bekerja di SDN 3 Bantaran.
Kapolsek Bantaran AKP Agus Eko Widodo mengatakan, sebelum kejadian, Hakim sempat mengeluhkan kondisi di tempat kerjanya kepada sang kakek. Menurut Hakim, sejak korban mulai bekerja di sekolah, suasana menjadi kurang nyaman dan ia merasa tidak disukai oleh sejumlah orang.


"Jadi cucunya ini bercerita kepada kakeknya kalau dirinya merasa dipojokkan di sekolah. Dia menganggap sejak korban masuk bekerja, suasana berubah dan ada yang tidak pas. Dari cerita itulah kakeknya kemudian tidak terima," kata Agus pada senin, 20 Juli 2026.
Hakim sendiri merupakan mahasiswa yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku kuliah semester 3 sembari bekerja sebagai tenaga honorer di sekolah tersebut.

img_title Duta Muda Sidoarjo 2026 Berikan Apresiasi kepada RSI Siti Hajar sebagai Official Medical Partner


"Korban ini honorer bagian operator sekolah. Sedangkan cucunya pelaku juga honorer, sambil kuliah dan membantu pekerjaan bersih-bersih di sekolah," jelasnya.
Merasa cucunya diperlakukan tidak adil, Mistar kemudian mendatangi SDN 3 Bantaran dengan membawa sebilah celurit. Saat melihat korban berada di lingkungan sekolah, pelaku langsung mengejarnya hingga korban berusaha menyelamatkan diri.


"Kakeknya datang ke sekolah membawa celurit. Begitu bertemu korban langsung dikejar. Korban sempat lari ke ruangan sebelah, tetapi tetap terkena sabetan di bagian bahu," ujar Agus.
Akibat sabetan tersebut, Nali mengalami luka robek di bahu kanan. Korban kemudian dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis dan harus menjalani delapan jahitan.

img_title Sekawan Bumi Foundation Salurkan Bantuan Air Bersih dan Gelar Aksi Asuh Pohon di Lereng Gunung Penanggungan


Polisi yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi kejadian, mengamankan pelaku, melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa korban serta sejumlah saksi, hingga menyita barang bukti untuk kepentingan penyidikan.


"Pelaku sudah kami amankan dan saat ini menjalani proses hukum. Kami juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan melengkapi berkas penyidikan," ungkap Agus.
Meski demikian, perkara tersebut berpeluang diselesaikan melalui mekanisme restorative justice. Menurut Agus, keluarga korban maupun pelaku telah menyampaikan keinginan untuk berdamai karena keduanya masih memiliki hubungan kekerabatan dan tinggal di desa yang sama.
"Hari ini kedua belah pihak menyampaikan keinginan untuk membuat kesepakatan damai. Informasinya mereka masih memiliki hubungan saudara, hanya berbeda RT.

Halaman Selanjutnya
img_title