Mahasiswa KKN 16 Untag Banyuwangi Dokumentasikan Sejarah Situs Buyut Darsi, Jaga Identitas Desa Wonosobo
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi melakukan pendokumentasian sejarah lisan Situs Buyut Darsi di Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga warisan budaya dan identitas desa yang selama ini diwariskan secara turun-temurun melalui cerita masyarakat. Minimnya dokumentasi tertulis dinilai dapat menyebabkan informasi mengenai sejarah Buyut Darsi perlahan hilang seiring berjalannya waktu.
Ketua KKN Kelompok 16 Untag Banyuwangi, Moh. Fiqry Al Kadafi, mengatakan bahwa Buyut Darsi memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Desa Wonosobo.
“Buyut Darsi merupakan bagian dari sejarah dan identitas Desa Wonosobo yang sampai hari ini masih diwariskan secara turun-temurun melalui cerita masyarakat,” ujar Kadafi.
Menurutnya, pendokumentasian perlu segera dilakukan karena sebagian besar informasi mengenai Buyut Darsi masih tersimpan dalam ingatan para sesepuh dan tokoh masyarakat.
“Kami melihat apabila sejarah ini tidak segera didokumentasikan, maka ada risiko informasi tersebut hilang seiring berjalannya waktu. Karena itu, kami melakukan pendokumentasian sejarah lisan sebagai bentuk pelestarian warisan budaya desa,” lanjutnya.
Situs Buyut Darsi bukan hanya dipandang sebagai tempat bersejarah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Sejumlah kegiatan seperti syukuran menjelang hajatan pernikahan, selamatan desa, dan kegiatan kebudayaan warga masih dilaksanakan di lokasi tersebut.
Dalam proses pengumpulan informasi, mahasiswa KKN menggunakan metode sejarah lisan atau oral history. Tim melakukan wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh desa, dan masyarakat yang memahami cerita serta tradisi seputar Buyut Darsi.
Pendekatan tersebut digunakan untuk merekam memori kolektif masyarakat yang selama ini belum terdokumentasikan secara sistematis. Hasil wawancara kemudian dilengkapi dengan foto situs dan sejumlah informasi pendukung yang diperoleh selama proses penelitian.
Kadafi menjelaskan, seluruh hasil pendokumentasian akan diwujudkan dalam bentuk dokumentasi digital yang memuat sejarah lisan, foto, serta informasi pendukung mengenai Situs Buyut Darsi.
“Rencananya, hasil pendokumentasian sejarah Buyut Darsi akan kami wujudkan dalam bentuk dokumentasi digital yang memuat sejarah lisan, foto, dan informasi pendukung yang telah kami kumpulkan selama proses penelitian,” katanya.