Meski Juli Alami Deflasi Bulanan, Inflasi Tahunan Kota Probolinggo Tercatat 2,54 Persen
- https://www.flickr.com/photos/ishaqzain/6189981599/
Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Pergerakan harga di Kota Probolinggo menunjukkan kondisi berbeda jika dilihat dari periode waktu pengukuran. Pada Juli 2026, secara bulanan harga sejumlah komoditas mengalami penurunan, namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Kota Probolinggo masih mengalami inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat tingkat inflasi year on year (y-on-y) Juli 2026 sebesar 2,54 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,75. Sementara secara month to month (m-to-m), Kota Probolinggo justru mengalami deflasi sebesar 0,14 persen.
Kepala BPS Kota Probolinggo Joko Santoso menjelaskan, perbedaan tersebut terjadi karena masing-masing indikator menggunakan periode pembanding yang berbeda.
“M-to-m itu bahasa sederhananya harga bulan Juli 2026 dibandingkan dengan harga bulan Juni 2026. Sedangkan y-o-y, harga bulan Juli 2026 dibandingkan dengan harga bulan Juli 2025,” ujar Joko Rabu, 5 Agustus 2026.
Joko mengatakan, pemahaman terhadap perbedaan indikator inflasi tersebut penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan kondisi perubahan harga.
Pada inflasi tahunan, salah satu komoditas yang memberikan pengaruh terbesar adalah emas perhiasan. Komoditas tersebut memberikan andil sebesar 1,05 persen terhadap inflasi y-on-y Kota Probolinggo.
Joko menyebut, dominannya pengaruh emas perhiasan terhadap inflasi tidak terlepas dari kenaikan harga emas dunia.
“Emas memberi andil yang besar terhadap inflasi karena harga emas dunia yang naik. Untuk inflasi y-o-y emas masih dominan, untuk m-to-m kita deflasi di bulan Juli 2026,” katanya.
Selain emas, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kelompok pengeluaran lainnya. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat mengalami inflasi tertinggi sebesar 10,69 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi dengan tingkat kenaikan sebesar 2,30 persen. Beberapa komoditas yang memberi andil antara lain Sigaret Kretek Mesin (SKM), beras, minyak goreng, ikan tongkol, daging sapi, dan bawang putih.
Sementara kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,39 persen. Bensin, pelumas atau oli mesin, serta biaya perbaikan ringan kendaraan menjadi komoditas yang memberikan pengaruh terhadap kenaikan harga pada kelompok tersebut.
Di sisi lain, penurunan harga pada sejumlah komoditas membuat inflasi bulanan Juli 2026 berada di zona deflasi. "Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai rawit, bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, dan tomat," ujarnya.