Tak Hanya Padamkan Api, Pemprov Jatim Mulai Siapkan Pemulihan Pascakarhutla Bromo

Rapat pemaparan terkait penanganan karhutla Bromo
Sumber :
  • Faradila Setya Utami

Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai diarahkan tidak hanya untuk memadamkan api. Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah pemulihan terhadap dampak yang ditimbulkan kebakaran.

img_title Karhutla Kawasan Bromo di Sariwani Bakar 41 Hektare, Pipa Air 32 Warga Terputus

Salah satu yang menjadi perhatian adalah jaringan pipa air yang terdampak kebakaran. Pemerintah Provinsi Jawa Timur meminta pemulihan infrastruktur tersebut mulai dipersiapkan sejak sekarang.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan pemulihan perlu menjadi bagian dari rangkaian penanganan bencana, meski proses pemadaman masih berlangsung.

img_title Jejak Api Bromo Masuk Laboratorium, Kemenhut Libatkan 2 Ahli IPB Dalami Dugaan Pidana

“Rehabilitasi jaringan pipa air yang terdampak kebakaran perlu mulai dipersiapkan dan direncanakan sejak dini sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana,” kata Adhy dalam pemaparan penanganan karhutla Bromo, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Adhy, penanganan di lapangan tetap harus berjalan dengan menggabungkan kekuatan dari udara dan darat.

img_title Kawasan Wisata Bromo Kembali Diselimuti Api, Kobaran Merambat di Lereng Cemoro Lawang

“Pelaksanaan pemadaman agar dioptimalkan melalui sinergi antara operasi water bombing dari udara dan pemadaman darat sehingga penanganan karhutla dapat berlangsung lebih efektif,” ujarnya.

Saat ini, tiga unit helikopter disiagakan untuk mendukung pemadaman dari udara. Sementara pasukan darat tetap melakukan penanganan di lokasi yang dapat dijangkau.

Selain pemulihan infrastruktur, pemerintah daerah juga mulai memikirkan bagaimana mengurangi risiko kebakaran serupa pada masa mendatang.

Bupati Probolinggo, Mohammad Haris Damanhuri Romly mengatakan kebakaran di kawasan Bromo bukan kejadian yang berdiri sendiri. Menurutnya, pola kebakaran yang berulang membuat upaya pencegahan perlu diperkuat.

“Kebakaran di kawasan Gunung Bromo merupakan permasalahan yang bersifat berulang sehingga memerlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan,” kata Haris atau yang sering dikenal dengan Gus Haris.

Gus Haris menilai langkah mitigasi perlu dipersiapkan jauh sebelum kebakaran kembali terjadi. Dengan begitu, ketika muncul titik api, petugas dan masyarakat sudah memiliki pola penanganan yang lebih jelas.

“Yang paling penting adalah penguatan upaya mitigasi kebakaran guna mengurangi risiko terjadinya karhutla di masa mendatang,” ujarnya.

Gus Haris juga menyoroti persoalan ketersediaan air. Menurutnya, sumber air di sekitar kawasan dapat dipertimbangkan untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran kembali.

Halaman Selanjutnya
img_title