Karhutla Bromo Tembus 899,35 Hektare, Satgas Fokus Putus Jalur Rambatan Api

Petugas TNI memantau kondisi kawasan terdampak karhutla Bromo
Sumber :
  • Dok. korem 083/baladhika jaya

Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah berdampak pada sekitar 899,35 hektare lahan. Tim gabungan kini tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi juga mencegah api kembali menjalar ke vegetasi yang belum terbakar.

img_title Karhutla Kawasan Bromo di Sariwani Bakar 41 Hektare, Pipa Air 32 Warga Terputus

Komandan Korem 083/Baladhika Jaya sekaligus Komandan Sektor Penanganan Karhutla TNBTS, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengatakan kondisi kawasan wisata Gunung Bromo saat ini tetap kondusif. Penanganan masih dilakukan secara terpadu oleh personel gabungan dari berbagai unsur.

“Kebakaran yang bermula sejak 3 Agustus 2026 ini diperkirakan telah berdampak pada lahan seluas 899,35 hektare,” kata Wahyu dalam rilis penanganan karhutla TNBTS, Selasa, 11 Agustus 2026.

img_title Jejak Api Bromo Masuk Laboratorium, Kemenhut Libatkan 2 Ahli IPB Dalami Dugaan Pidana

Luas tersebut tersebar di sejumlah kawasan yang masuk wilayah penanganan Satgas. Rinciannya meliputi Watangan sekitar 817,342 hektare, Argowulan 25,393 hektare, serta kawasan Dingklik, Pakis Bincil dan Mungal sekitar 56,65 hektare.

Meski area terdampak cukup luas, titik api aktif yang masih menjadi perhatian saat ini telah berkurang. Berdasarkan konfirmasi Penrem 083/Bdj, dari tiga titik api yang sebelumnya menjadi fokus penanganan, kini tersisa dua titik api.

img_title Kawasan Wisata Bromo Kembali Diselimuti Api, Kobaran Merambat di Lereng Cemoro Lawang

Kondisi medan dan vegetasi menjadi perhatian utama tim gabungan. Area yang terbakar berada di kawasan dengan kontur terjal dan banyak ditumbuhi vegetasi kering yang mudah terbakar.

Wahyu mengatakan tim kini berupaya menghentikan jalur penjalaran api agar kebakaran tidak berkembang ke area lain.

“Prioritas kami adalah memutus jalur rambatan agar tidak meluas ke area vegetasi baru,” ujarnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, operasi pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Dua unit helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing di lokasi yang sulit dijangkau pasukan darat.

Jumlah helikopter yang beroperasi berkurang dari sebelumnya tiga unit. Kondisi tersebut disesuaikan dengan situasi cuaca di kawasan Bromo.

“Selain faktor angin dan cuaca kemarau, kabut tebal di lokasi juga membatasi jarak pandang operasional helikopter pengebom air. Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk water bombing dari sebelumnya tiga unit, menyesuaikan dengan dinamika cuaca dan visual pilot di lapangan,” jelas Wahyu.

Halaman Selanjutnya
img_title