Waspadai Brain Rot, Akibat Konsumsi Konten Receh

Dopamin Media Sosial bikin ketagihan
Sumber :
  • https://www.pinterest.com/pin/96405866

Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi –Pada tahun 2024, Tim Bahasa Oxford menobatkan “brain rot” sebagai “word of the year.” Brain rot adalah istilah yang dalam konteks digital diartikan sebagai kebusukan otak, dalam artian penurunan konsentrasi karena seringnya menonton video pendek dan konten yang berkualitas rendah.

img_title SUV Mewah Termahal dengan Interior Bertabur Berlian dan Kulit Asli

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan brain rot ialah kecanduan media sosial. Seseorang yang sulit mengontrol waktu penggunaan media sosial akan selalu terdorong untuk menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.

Fear Of Missing Out (FOMO) juga menjadi pemicu brain rot, kecamasan jika tidak mengikuti tren media sosial menyebabkan peningkatan aktivitas layar gadget karena mendorong seseorang terus-menerus memeriksa sosial media mereka.

img_title Titanium dan Serat Karbon, Rahasia Motor Listrik Premium

Dilansir dari kanal psikologi Universitas Gadjah Mada, secara historis istilah brain rot muncul pada buku karangan Henry David Thoreau’s dengan judul “Walden” pada tahun 1845, dengan kutipan sebagai berikut:

“While England endeavours to cure the potato rot, will not any endeavour to cure the brain-rot – which prevails so much more widely and fatally?”

img_title Supercar Limited Edition, Mengapa Harganya Terus Naik?

Kutipan tersebut mencerminkan kritik Thoreau terhadap masyarakat yang cenderung meremehkan gagasan-gagasan kompleks demi pemikiran yang sederhana.

Menurut Thoreau, sikap ini menunjukkan kemunduran dalam upaya masyarakat berpikir mendalam dalam mengembangkan kemampuan intelektual mereka. Tidak hanya bagi orang dewasa, kebiasaan berjam-jam di media sosial serta konsumsi video berkualitas rendah juga sangat mengkhawatirkan bagi remaja.

Remaja saat ini, yang dari kecil sudah dikenalkan teknologi yang tidak diikuti dengan menyaring konten sangat rentan mengalami brain rot, yang dapat berbahaya pada kemampuan akademik mereka.

Menurut Nur Maghfirah Aesthetika MMedKom, seorang pakar media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mengatakan, “Jenis konten berdurasi pendek dan bisa dilewati bila ia tidak suka konten tersebut. Maka, hal itu bisa terbawa ke kehidupan nyata.

Ketika mereka tidak menyukai sesuatu, maka mereka akan menghindari hal itu daripada menyelesaikannya.” Terdapat penelitian bahwa sering konsumsi video pendek dapat mengurangi kemampuan analisis.

Seseorang akan terbiasa mengolah informasi secara otomatis, tanpa analisis mendalam. Dampaknya, individu sangat rentan menerima berita bohong atau palsu.

Halaman Selanjutnya
img_title