Pasar Intan Martapura, Berburu Kilau Berlian dan Batu Permata Terbesar di Indonesia!
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/pasar-intan-martapura/
Wisata, VIVA Banyuwangi –Jauh di jantung Kalimantan Selatan, ada sebuah kota yang dijuluki sebagai "Kota Intan". Inilah Martapura, pusat perdagangan berlian dan batu permata terbesar di Indonesia. Denyut nadi kota ini berpusat di satu lokasi: Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Intan Martapura.
Ini bukanlah sekadar deretan toko perhiasan biasa. Pasar ini adalah sebuah ekosistem unik tempat para penambang, penggosok, pialang (makelar), dan pembeli dari seluruh dunia bertemu. Mengunjunginya bukan hanya soal berbelanja, tetapi juga menyaksikan sebuah tradisi perdagangan berbasis kepercayaan yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Kilau yang Beraneka Ragam
Memasuki area pasar, mata kita akan langsung disuguhi pemandangan etalase-etalase kecil yang penuh kilau. Yang diperjualbelikan di sini sangat beragam, mulai dari:
- Intan Mentah: Berlian yang baru diangkat dari perut bumi, masih dalam bentuk aslinya yang kasar.
- Intan yang Sudah Digosok: Berlian yang sudah dipoles dan siap untuk diikat menjadi perhiasan.
- Aneka Batu Permata: Kalimantan juga kaya akan batu mulia lain. Di sini, Anda bisa menemukan safir, rubi, zamrud, dan yang paling terkenal adalah batu kecubung (ametis) dengan warna ungu pekatnya yang khas.
Sistem Transaksi Unik Penuh Kepercayaan
Inilah yang membuat Pasar Intan Martapura begitu istimewa. Lupakan mesin kasir atau label harga yang kaku. Sebagian besar transaksi di sini, terutama antar pedagang, masih dilakukan dengan cara tradisional yang sangat unik.
Peran sentral dipegang oleh para pialang atau makelar. Mereka adalah perantara yang menghubungkan semua pihak. Seorang pialang bisa membawa beberapa butir intan dari seorang penggosok, lalu menawarkannya kepada calon pembeli di pasar.
Proses tawar-menawarnya pun sering kali dilakukan secara rahasia dan senyap. Calon pembeli dan pialang akan duduk berhadapan, tangan mereka saling menggenggam di bawah kain sarung atau topi. Dengan menggunakan isyarat jari yang tersembunyi, mereka akan "berbicara" tentang harga. Tradisi yang disebut "bapatik" atau "goyang" ini sepenuhnya didasari oleh kepercayaan dan kode etik yang telah dipahami bersama.