Waspada Virus Insecure Pada Anak!

Insecure pada anak perlu diwaspadai.
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/copy-space-little-girl-upset-yellow-background_6047908.htm

Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Tidak dapat dipungkiri, di zaman yang serba canggih dan modern ini, bukan hanya orang dewasa yang masuk dalam era persaingan. Begitu juga terjadi pada anak-anak, baik secara akademik, sosial, dan materi. Rasa Insecure atau minder pada anak kerap muncul saat melihat teman sebayanya lebih mudah dalam mendapatkan sesuatu, dibanding dirinya yang penuh keterbatasan.

Cek Produk Rekomendasi Kami

paket (super pintar calistung & jarimatika) FREE GIFT MIX

Mulai dari

Rp.14.900

Hal inilah yang menjadi penyebab seorang anak akan membatasi diri dalam pergaulan sosial. Namun ternyata masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang anak menjadi minder. Sebagai orang tua tentunya perlu waspada jika tanda-tanda minder mulai menyerang, agar segera mendapatkan solusi.

Cek Produk Rekomendasi Kami

Majalah Tempo Terbaru Azis Lagi Lagi Azis 13-19 September 202q

Mulai dari

Rp.10.000

Penyababnya apa saja sih?

Untuk memahamai lebih jauh berikut penjelasan penyebab umum yang menjadi pemicu timbulnya rasa insecure pada anak-anak.

Merasa kalah dalam kecerdasan

Umumnya, penyebab insecure pada anak terjadi pada proses belajar, Saat ini anak dituntut untuk belajar agar dapat meraih masa depan yang lebih cerah dibanding generasi sebelumnya. Tuntutan ini yang membuat anak merasa tidak mampu menguasai sesuatu seperti teman sebayanya yang lebih unggul dalam akademis. Perasaan yang selalu merasa kalah akan berbahaya jika terus berlanjut karena akan menghambat perkembangan kepribadian anak, tanpa disadari ini mempengaruhi fungsi otak secara keseluruhan.

Merasa kurang pintar dalam keterampilan/hobi

Insecure pada anak kerap terjadi bukan hanya pada bidang akademis, non-akademis juga bisa menjadi penyebab rasa minder muncul. Anak merasa tidak memiliki keahlian lain, dan merasa tidak hebat pada hobi yang sudah dicoba atau sedang digeluti. Perasaan tidak unggul dibanding teman-temannya, karena hanya bisa belajar di dalam kelas dan tugas yang dibebankan padanya juga perlu diwaspadai.

Merasa miskin dibanding teman sebayanya

Bagi orang tua dan anak-anak pemahaman tentang kemiskinan tentu berbeda. Anak-anak cenderung melihat kemiskinan dengan hal yang nampak. Saat merasa lebih miskin dibanding teman sebayanya, anak cenderung berkecil hati karena tidak mampu menyaingi apa yang dimiliki temannya. Di sisi lain anak mulai merengek meminta sesuatu dan orang tua yang tidak memilliki daya untuk memenuhi itu, tentu dibayangi rasa bersalah.