Makna Spiritual Seblang Olehsari
- Hari Purnomo/ VIVA Banyuwangi
Seblang tidak bisa hidup sendirian. Ia adalah hasil dari gotong royong, dari mulai prosesi pupuhan, memantik kesadaran bahwa ritual adat Seblang bukan proyek individu.
Ia adalah nafas kolektif. Dan bukankah Tuhan pun lebih menyukai doa yang dilafalkan bersama ? Di tengah zaman yang menyanjung ego dan pencitraan, Seblang mengajarkan kerendahan hati. Tak penting siapa yang paling bersinar.
Masyarakat Olehsari adalah bagian dari ritual yang keberadaannya merupakan entitas penting bagi keberlangsungan ritual adat. Yang satu menyiapkan bunga. Yang lain membawa sesaji. Anak-anak berlarian dalam riang yang suci.
Semuanya ikut mempersiapkan dan merayakan. Karena yang sedang mereka bangun bukan sekadar panggung melainkan keseimbangan dalam tatanan alam semesta. Dalam narasi yang lebih mendalam, Seblang juga bentuk perlawanan.
Buyut Saridin, dalam perjuangannya tidak mengangkat senjata, tapi ia membangkitkan martabat manusia lewat laku ritual dan meng-komposisi gerakan tari. Ia membangun perlawanan dengan membangkitkan semangat spiritualitas.
Hanya jiwa yang merdeka yang mampu melawan segala bentuk penjajahan, tanpa harus berteriak dan pertumpahan darah.
Gendhing-gendhing Seblang adalah sandi perlawanan. Ada pesan terselip dalam syair nya agar manusia tidak serakah, agar tidak melupakan tanah yang ditinggalinya dan senantiasa menjaga lingkungan segenap jiwa raga.
Kini, Seblang banyak ditonton orang darimana-mana. Wisatawan domestik dan mancanegara saling berdatangan. Desa Olehsari menjadi destinasi wisata budaya yang sangat populer.
Pesan bagi para penjaga tradisi, jangan sampai tiba masa nya, ritual adat Seblang hanya menjadi komoditas seni belaka. Kesakralannya harus dijaga. Seblang lahir dari rasa prihatin yang bergejolak dalam melawan penindasan dan menjaga alam.
Manusia modern hari ini sesungguhnya rentan untuk melupakan akar kebudayaannya.
Seblang mengingatkan kita pada hal-hal yang sering kita anggap remeh: air, tanah, doa, leluhur, dan kesucian hati. Penari Seblang mengenakan omprog yang dibuat dari pupus pisang.
Hal itu mengajarkan agar manusia hidup apa adanya, tidak menutup-nutupi keadaan, dan bersikap jujur. Setiap hari, sewek yang dikenakannya, diganti oleh warga sekitar. Bagaimana hal tersebut menjadi simbol tentang sikap saling melengkapi.