Membaca Buku di Waktu Libur Panjang, Begini Manfaatnya!

Seorang perempuan membaca buku di sela waktu liburan
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/woman-reading-book-picnic-blanket_4968243.htm

Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Akhir bulan Mei 2025 padat dengan hari libur. Tepatnya pada tanggal 29-30 Mei 2025, para pekerja seluruh di Indonesia disuguhkan untuk berlibur. Waktu libur adalah situasi yang tepat untuk mengeksplorasi diri dan pastinya menggunakan waktu agar lebih produktif.

img_title Cara Membuat Fake Project untuk Portfolio, Cocok untuk Fresh Graduate

Buku dapat menjadi sahabat untuk menghabiskan waktu libur. Melalui buku, pembaca dapat mengeksplorasi diri, dan mendapatkan pengetahuan di setiap halaman yang tersirat di dalamnya.

Buku memang belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Melalui data yang dikeluarkan oleh UNESCO bahwa total keseluruhan masyakarat republik yang giat membaca hanya 0,001% atau setara dengan 1.000 orang.

img_title Belum Punya Pengalaman? Ini Ide Fake Project untuk Portfolio

Syahdan, membiasakan membaca buku di waktu senggang bukan perihal tabu. Kendati demikian, kita perlu meletakan buku seperti kebutuhan primer agar dapat mendongkrak jumlah pembaca buku di Indonesia dan mendapatkan manfaat dari buku.

Menyitir Karlina Leksono Supelli dalam esainya berjudul ‘Membaca dan Menulis Sebuah Penghayatan Eksistensial’ di mana tersirat dalam Buku dalam Indonesia Baru (Penerbit Yayasan Obor Indonesia, 1999), Karlina menjelaskan tentang manfaat buku. Lalu, apa sih keunggulan pembaca buku? Berikut ulasannya:

img_title Memulai Hobi Aquaponik, Cara Sederhana untuk Pemula di Rumah

1. Membaca dapat menguatkan rasa

Buku menjadi kaca hidup umat manusia. Disitu manusia dapat mempelajari kisah yang dapat diaplikasikan ke realitas hidup pembaca. Semakin banyak kita disuguhkan dengan kisah dan pembelajaran, semakin lebar pula pengalaman kita untuk menjadi lebih bijaksana.

2. Mempelajari Pengetahuan yang Terbatas Ruang

Buku memepatkan ruang, agar kita dapat menilik situasi yang jauh dari penglihatan. Melalui buku dan kisah, kita dapat merasakan kemudian merenungkan. Dalam esainya itu, Karlina mendaku bahwa dirinya telah bersahabat dengan buku sejak dari kecil. Sewaktu kecil, Karlina telah berkenalan dengan beberapa penulis-penulis penting di Eropa, seperti Robinson Croesoe dengan Daniel Defoe sampai Marie Curie dengan karyanya berjudul Frankenstein. Pengalaman-pengalaman imaji dari buku itu, membikinnya menjadi lebih cepat menyerap bagaiman realitas bergerak. Buku mengantarkanya mendobrakan ruang mencecap banyak pengalaman.

3. Memantik Nalar Kritis

Nalar kritis itu dibentuk dari proses pengalaman tak henti. Proses penalaran terbentuk kemudian menjadi tajam seiring manusia dihadapkan kepada pengalaman tertentu. Ruang hidup manusia terbatas, akan tetapi buku mampu menyuguhkan mengatasi keterbatasan itu. Buku yang terbaca alhasil hinggap dalam benak pembacanya. Referensi itulah yang membikinnya sebagai alat menerka realitas yang mengajak pembaca bersikap lebih kritis.

Halaman Selanjutnya
img_title