Pergeseran Cara Pandang Memilih Pasangan Hidup
- https://pixabay.com/id/photos/pasangan-pernikahan-taman-443600/
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Kata orang tua zaman dahulu, khususnya di masyarakat Jawa, carilah pasangan sesuai dengan bibit, bobot dan bebet. Masih relevankan nasihat itu di masa sekarang?
Dilansir dari tentanganak_edu, pencarian calon suami atau istri tetap membutuhkan pertimbangan bibit, bobot dan bebet. Sejalan dengan itu, bridestory.com juga menyoroti hal ini karena standar ideal itu telah meresap dan menjadi nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Namun standar isi dari bibit, bobot dan bebetnya sudah berbeda antara di masa lalu dengan masa sekarang..
Mau tahu pergeseran cara pandang memilih pasangan hidup itu? Berikut ini penjelasannya.
1. Bibit Atau Asal-Usul Garis Keturunan
Zaman dahulu bibit berarti latar belakang keluarga calon pasangan. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana calon pasangan dididik dalam keluarganya. Jadi bibit digunakan untuk mengenali karakter serta watak pasangan melalui latar belakang keluarganya.
Misalnya:
- Dia anak siapa?
- Dia dari keluarga yang utuh atau broken home?
Namun sekarang, pemahaman bibit itu berarti kondisi emosional keluarganya. Misalnya:
- Apakah ia membawa pola toksik dari masa lalu?
- Apakah ia sedang menyembuhkan luka dari generasi sebelumnya?
2. Bobot Atau Kualitas Diri
Unsur dari kualitas diri ini termasuk pendidikan, pekerjaan, keimanan, kecakapan hingga perilaku pasangan. Secara sederhana, bobot adalah tentang kualitas diri seseorang secara lahir maupun batin.
Zaman dahulu, bobot dianggap sebagai sifat pribadi calon pasangan. Misalnya:
- Dia pemarah atau tidak?
- Rajin atau tidak dalam kehidupan sehari-hari?
Namun di zaman sekarang, bobot dipahami sebagai kualitas pribadi dan dinamika hubungan. Misalnya:
- Maukah dia berubah demi hubungan yang lebih baik?
- Mampukah tetap selaras meski berbeda?
3. Bebet Atau Penampilan Diri
Zaman dahulu bebet berarti status ekonomi dan sosial yang dimiliki calon pasangan yang terlihat dari penampilannya. Secara harfiah, bebet berasal dari kata bebedan atau cara berpakaian. Pada zaman dulu, cara berpakaian melambangkan status sosial seseorang di tengah masyarakat. Jadi, apa yang dipakai akan menunjukkan kelas sosial dari orang tersebut. Bebet merupakan kriteria terakhir sehingga dianggap bukan hal penting.