Self Reward atau Self Sabotage?
- https://unsplash.com/photos/a-person-holding-a-bunch-of-money-in-front-of-a-calculator-VnTR3XFwxWs
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Di era sekarang ini, gaya hidup serba mewah sudah menjadi bahan konsumsi sehari-hari. Informasi soal diskon, iklan produk terbaru, hingga konten-konten review produk sudah mengisi timeline media sosial. Berbagai fitur di aplikasi e-commerce pun memudahkan kita untuk membeli dan mengakses produk-produk terbaru yang bermunculan di pasar. Kemudahan-kemudahan ini sayangnya justru datang bersama dampak buruk bagi penggunanya. Tanpa sadar, banyak dari kita–khususnya kalangan mudah yang justru terjebak dalam siklus belanja implusif.
Banyak kalangan muda di era sekarang memiliki prinsip: “ Hidup hanya sekali, uang tidak di bawa mati.” Hal ini kemudian membuat kalangan muda kesulitan untuk mengatur keuangan. Setelah paket datang, justru banyak orang yang merasa menyesal karena menyadari sudah menghamburkan uang begitu saja. Lebih parahnya, tak jarang barang yang sudah dibeli, berakhir hanya mengendap di sudut kamar setelah sekali pemakaian.
Lebih lanjut, tindakan ini muncul karena pencarian validasi dari lingkup sosial. Dewasa ini, seringnya value seseorang dinilai dari barang-barang yang dimiliki, bukan pencapaian yang berhasil digapai. Sehingga, banyak dari kalangan muda di zaman sekarang yang mencari validasi dengan cara seperti ini. Kemudian muncul pertanyaan: tindakan ini dilakukan atas dasar keperluan, atau hanya sekadar keinginan?
Sering kali tindakan implusif dalam membeli barang didasari oleh kesenangan sementara. Tindakan ini kerap didramatisasi dengan sebutan: “self reward,”–yakni euforia sementara yang muncul begitu seseorang memiliki uang, namun tidak dibarengi dengan regulasi finansial yang baik. Hasilnya adalah, tindakan implusif terjadi. Lantas bagaimana cara mengatasi tindakan implusif ini?
Psikolog klinis Dr. April Benson dalam bukunya “To Buy or Not to Buy: Why We Overshop and How to Stop” menekankan bahwa pembelian impulsif sering kali terjadi bukan karena kebutuhan nyata, melainkan bentuk pelarian dari tekanan emosional. Menurutnya, mengubah pola konsumsi bisa dimulai dengan mindful spending—yaitu kesadaran penuh terhadap alasan dan konsekuensi dari setiap transaksi.
Penelitian dari Journal of Consumer Research (Rick, Pereira, & Burson, 2014) juga menunjukkan bahwa tindakan impulsif cenderung menurun ketika seseorang diberi waktu untuk menunda pembelian. Bahkan jeda sesingkat 24 jam mampu mengurangi kemungkinan membeli barang yang tidak direncanakan, karena memberi ruang untuk berpikir secara rasional ketimbang emosional.