Mengenal FTD, Penyakit yang Diderita Bruce Willis!
- https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=79931025
Kesehatan, VIVA Banyuwangi – Siapa yang tak mengenal Bruce Willis? Aktor legendaris dengan perannya di berbagai film laga selalu tampil karismatik. Nama aktor Bruce Willis menjadi perbincangan Kembali di dunia maya bukan karena film barunya, tetapi mengenai perkembangan kesehatannya. Siapa yang mengira dibalik tubuhnya yang nampak sehat dan selalu kuat ternyata Bruce di diagnosa Demensia Frontotemporal (FTD) sejak 2023, seperti yang dilansir Los Angeles Time (2023).
FTD sendiri merupakan jenis demensia yang belum banyak dikenal oleh masyarakat. Penyakit ini menyerang kemampuan berpikir, berbahasa, bahkan dapat memperngaruhi kepribadian seseorang. Dalam kasus Bruce Willis ini menjadi contoh bahwa penyakit seperti ini dapat menyerang diam-diam bahkan pada tubuh yang nampak kuat dan sehat secara fisik.
Demensia Frontotemporal sebenarnya apa sih?
Berbeda dengan Alzheimer yang menyerang memori, FTD adalah bentuk demensia yang menyerang lobus frontal dan temporal otak. Sehingga FTD cenderung memberi pengaruh pada perubahan kepribadian, emosional, hingga kemampuan berbahasa. Dalam jurnal Neurologic Clinics (2017) yang dikaji oleh Nicholas T. Olney, MD, dkk. FTD adalah penyebab utama demensia dini karena menyerang usia produktif dibawah 65 tahun, inilah yang terjadi pada aktor Bruce Willis.
Waspadai gejala awalanya!
Pada FTD sendiri terdapat 2 jenis yang paling umum dialami oleh manusia, dan masing-masingnya memiliki gejala yang khas:
Bv FTD (Behavioral Variant)
- Adanya perubahan kepribadian yang drastis
- Hilangnya rasa empati
- Perilakunya impulsif
- Ketidakpedulian yang ekstrem atau apatis
PPA (Primary Progressive Aphasia)
- Kesulitan dalam berbicara dan memahami kata
- Sering melakukan kesalahan dalam berucap
- Kehilangan kosakata yang digunakan dalam sehari-hari
Pada kasus yang dialami oleh aktor Bruce Willis ini, turut membuka mata publik mengenai pentingnya deteksi dini dan rasa empati terhadap penderita FTD yang ada di sekitar. Meski penyakit ini belum dapat disembuhkan, namun dengan perawatan yang difokuskan untuk membantu mengelola gejala dan menjaga kualitas hidup penderita. Seperti terapi wicara dan okupasi, dukungan psikososial dari keluarga, dan obat yang diberikan oleh dokter untuk gejala perilaku pasien, diharapkan tetap dapat menjalani hidup dengan layak dan bermakna.