Tes Mental di Puskesmas, Tapi Kenapa Banyak yang Ragu?

Stigma bikin ragu, bukan layanannya
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/person-suffering-from-ptsd-psychologist_22894002.htm

Kesehatan, VIVA Banyuwangi – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melalui Direktur Kesehatan Jiwa menyatakan bahwa layanan skrining kesehatan jiwa kini tersedia secara gratis di seluruh puskesmas, termasuk untuk kelompok rentan seperti ibu hamil dan remaja sekolah. Tes yang digunakan berupa Self Reporting Questionnaire (SRQ-20) dan alat skrining lain seperti Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan Mini ICD-10

img_title Seni Pengemasan Madu Mentah dan Sarang Lebah untuk Parsel Kesehatan Eksklusif

Selain layanan tatap muka, Kemenkes juga menyediakan alternatif skrining online melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile serta portal SIMKESWA untuk memudahkan deteksi dini gangguan mental secara mandiri

Mengapa Banyak Orang Ragu?

img_title Peran Vital Nutrisi dan Gizi bagi Kesehatan Otak

1. Stigma Kuat dari Lingkungan Sosial

Menurut penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Limboto Barat, penggunaan istilah “gila” secara luas berdampak pada perlakuan diskriminatif, bahkan pemasungan oleh keluarga atau tetangga

img_title Pendekatan Medis dan Alami dalam Cara Meningkatkan Memori Otak

2. Penelitian ini melibatkan wawancara langsung dengan pasien dan tenaga kesehatan, dan menyimpulkan bahwa stigma terdiri dari stereotip negatif, labelisasi, dan penolakan sosial, yang menyebabkan individu enggan mencari bantuan profesional.

3. Literasi Kesehatan Jiwa yang Rendah

Banyak masyarakat belum memahami pentingnya deteksi dini. Hasil kajian dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan mental berkorelasi langsung dengan peningkatan stigma

Padahal, menurut Kemenkes, gangguan jiwa ringan sekalipun bisa ditangani sejak dini dengan pendekatan psikososial di fasilitas layanan primer, tanpa perlu rujukan ke RS jiwa jika ditangani cepat.

4. Privasi dan Rasa Malu

Di banyak daerah, pasien merasa khawatir data pribadi tersebar karena petugas puskesmas berasal dari lingkungan yang sama. Rasa malu membuka kondisi mental juga kerap membuat pasien memendam masalah hingga kondisinya memburuk.

Dampak Nyata

Sebuah studi internasional yang dimuat dalam International Journal of Mental Health Systems menyoroti bahwa stigma yang dirasakan pasien menjadi penghalang utama dalam mengakses layanan kesehatan jiwa, bukan hanya di negara maju tapi juga di Indonesia

Tanpa dukungan sosial dan lingkungan yang mendukung, pasien mengalami penurunan kualitas hidup, merasa terkucil, dan kehilangan produktivitas sosial maupun ekonomi.

Solusi yang Perlu Diperkuat

1. Edukasi Massal dan Anti-Stigma

Kampanye edukatif perlu dilakukan secara masif di sekolah, tempat kerja, dan media sosial. Strategi edukasi seperti yang diimplementasikan oleh beberapa puskesmas di Lombok Barat, melalui Sekolah Kesehatan Jiwa, membuktikan bahwa pendekatan komunitas efektif menurunkan stigma .

Halaman Selanjutnya
img_title