Ternyata Ada Hujan Berlian di Planet ini!

fenomena hujan berlian di planet Uranus dan Neptunus
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/decorative-clear-diamonds-white-fabric-textured-background_13461939.htm#

Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Di planet uranus dan neptunus hujan bukan berbentuk air, melainkan berlian. Raksasa es, Planet Uranus dan Planet Neptunus sering terabaikan, kalah populer dibanding Jupiter yang perkasa dan Saturnus yang megah. Sekilas, keduanya tampak seperti bola gas yang membosankan. Namun, di balik atmosfernya, para ilmuwan menduga ada fenomena luar biasa: hujan berlian.

img_title Cara Membuat Fake Project untuk Portfolio, Cocok untuk Fresh Graduate

Istilah raksasa es memang terkesan seperti makhluk fantasi, tetapi dalam astronomi istilah ini digunakan untuk menyebut Uranus dan Neptunus. Meski disebut “es”, planet ini tidak benar-benar dipenuhi es seperti yang kita bayangkan dalam minuman. Perbedaannya terletak pada komposisinya.

Jupiter dan Saturnus hampir seluruhnya terbentuk dari hidrogen dan helium, sementara Uranus dan Neptunus tersusun dari air, amonia, serta metana. Unsur-unsur itu awalnya kemungkinan berbentuk padat ketika planet terbentuk, sehingga disebut “es”.

img_title Belum Punya Pengalaman? Ini Ide Fake Project untuk Portfolio

Di balik awan biru-hijau, raksasa es diyakini memiliki inti batuan yang dikelilingi lapisan molekul dalam kondisi kuantum unik akibat tekanan tinggi. Bagian terdalamnya bahkan bisa mencapai suhu ribuan derajat dengan tekanan jutaan kali lebih besar daripada atmosfer Bumi.

Sayangnya, pengetahuan kita tentang bagian dalam planet ini masih terbatas sejak terakhir kali Voyager 2 melintas tiga dekade lalu. Kini, pemahaman kita hanya bertumpu pada teleskop, eksperimen laboratorium, dan pemodelan matematika.

img_title Memulai Hobi Aquaponik, Cara Sederhana untuk Pemula di Rumah

Dari situlah muncul teori hujan berlian. Tekanan ekstrem dapat memecah molekul metana dan melepaskan karbon. Karbon ini kemudian menyusun rantai kristal hingga terbentuk berlian padat. Kristal tersebut jatuh ke dalam lapisan mantel, lalu menguap saat terlalu panas, dan mengulang siklusnya—itulah yang disebut hujan berlian.

Gagasan mengenai adanya hujan berlian sebenarnya telah muncul sejak sebelum peluncuran misi Voyager 2 pada tahun 1977. Logikanya sederhana: para ilmuwan sudah mengetahui komposisi utama Uranus dan Neptunus, serta memahami bahwa semakin dalam ke inti sebuah planet, suhu dan tekanannya akan semakin tinggi.

Melalui pemodelan matematis, diperkirakan bagian terdalam mantel kedua raksasa es itu bisa mencapai suhu sekitar 6.727 derajat Celsius dengan tekanan hingga enam juta kali lipat atmosfer Bumi. Sementara itu, lapisan mantel yang lebih luar memiliki kondisi yang sedikit lebih “ramah”, yaitu sekitar 1.727 derajat Celsius dan tekanan 200.000 kali atmosfer Bumi.

Halaman Selanjutnya
img_title