Sejarah Wibu dan Stigma Negatifnya
- https://images.app.goo.gl/PTCxW
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi –Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah "wibu" merujuk pada seseorang yang sangat tergila-gila dengan budaya serta gaya hidup Jepang. Istilah ini mulai populer di Indonesia sejak awal tahun 2000-an, seiring meningkatnya minat masyarakat, khususnya anak muda, terhadap budaya pop Jepang.
Popularitas ini berkembang pesat ketika berbagai stasiun televisi nasional menayangkan anime-anime terkenal. Salah satu animasi Jepang pertama yang diperkenalkan ke masyarakat Indonesia adalah Wanpaku Omukashi Kum-Kum yang disiarkan oleh TVRI pada akhir 1970-an.
Kemudian, pada 1990, RCTI mulai menayangkan Doraemon, yang menceritakan tentang anak bernama Nobita dan robot kucing dari masa depan. Sejak itu, saluran-saluran lain pun mengikuti, menayangkan anime seperti Dragon Ball, Detective Conan, Pikachu, dan Sailor Moon.
Asal usul kata “wibu” berasal dari istilah bahasa Inggris “weeaboo”. Sebelum dikenal dengan sebutan itu, istilah “Japanofilia” lebih dulu digunakan untuk menggambarkan ketertarikan terhadap budaya Jepang. Istilah ini muncul sejak Jepang membuka hubungan dagang dengan negara-negara asing di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Salah satu tokoh yang dianggap sebagai Japanofilia pertama adalah Patrick Lafcadio Hearn. Di awal 2000-an, muncul kata “weeaboo” di dunia maya, yang digunakan untuk mengejek orang-orang yang terlalu mengagumi budaya Jepang. Sebelumnya, istilah “wapanese” atau "wannabe Japanese" digunakan untuk menghina warga Barat yang terobsesi dengan budaya Jepang seperti anime dan manga.
Frasa “weeaboo” pertama kali muncul dalam komik karya Nicholas Gurewitch berjudul The Perry Bible Fellowship. Meskipun Gurewitch tidak pernah memberikan definisi resmi, istilah ini mulai digunakan di forum 4chan sekitar tahun 2005 untuk menggantikan istilah wapanese.
Awalnya hanya ditujukan kepada orang Barat, makna weeaboo kemudian berkembang luas dan digunakan untuk menyebut siapa pun yang begitu mengidolakan budaya Jepang dan sering kali menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini diadaptasi sebagai “wibu”.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata “wibu” mendapatkan konotasi negatif dan sering diasosiasikan dengan perilaku berlebihan terhadap budaya Jepang. Sejak sekitar tahun 2016, sebutan ini semakin populer di kalangan pengguna internet di Indonesia dan mulai digunakan untuk menggeneralisasi para penggemar budaya pop Jepang seperti anime, manga, dan musik J-pop.