Digitalisasi Pendidikan, Kemendikdasmen Hadirkan Kelas Interaktif!
- https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13635-kemendikdasmen-dorong-digitalisasi-pembelajaran-untuk-wujudkan-kelas-interaktif
Jakarta, VIVA Banyuwangi –Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong percepatan digitalisasi pembelajaran sebagai langkah mewujudkan kelas interaktif dan merata di seluruh Indonesia.
Program ini menjadi jawaban atas tantangan pendidikan, mulai dari rendahnya literasi hingga learning loss pascapandemi.
“Digitalisasi pembelajaran menjadi upaya percepatan agar anak-anak Indonesia bisa mengejar ketertinggalan sekaligus terbiasa dengan keterampilan abad 21,” ujar Dirjen PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto.
Program ini memiliki dasar hukum melalui Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang revitalisasi satuan pendidikan dan implementasi digitalisasi.
Presiden menargetkan setiap sekolah memperoleh Papan Interaktif Pintar atau Interactive Flat Panel (IFP) sebagai perangkat utama pembelajaran modern. Distribusi tahap pertama telah dilakukan di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
“Anak-anak bisa memutar model jantung, memperbesar, memperkecil, dan langsung menjawab soal interaktif di layar. Semua ini membuat pembelajaran lebih mudah dipahami sekaligus menyenangkan,” jelas Gogot.
Pemerintah memastikan program digitalisasi juga menjangkau sekolah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kemendikdasmen bekerja sama dengan PLN menyediakan panel surya untuk sekolah tanpa listrik.
Bukan hanya itu, pemerintah juga memberi perangkat tambahan agar tetap terhubung meski tanpa internet. Konten interaktif juga dapat diakses secara luring melalui penyimpanan eksternal.
“Ada tiga lapis verifikasi, mulai dari Dapodik, validasi dinas, hingga pernyataan kesediaan sekolah. Digitalisasi bukan sekadar membagi alat, tapi memastikan mutu pembelajaran merata,” tegas Gogot, seperti yang dilansir dalam laman Kemendikdasmen RI.
Digitalisasi Pembelajaran dipandang sebagai pilar penting mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Pilar inklusif menegaskan layanan merata tanpa kesenjangan.
Pilar adaptif yang mendorong adopsi teknologi dan keterampilan abad 21, sedangkan pilar partisipatif membuka ruang kontribusi guru dan komunitas.