Api Bromo Bisa Melompati Jalur 18 Meter, Petugas Siapkan Batas Pengamanan Baru
- dok. BPBD Kab. Probolinggo
Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kaldera Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), masih terus ditangani. Salah satu kendala di lapangan adalah api dapat melompati jalur yang sebelumnya digunakan sebagai batas untuk menahan penjalaran.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan api bahkan dapat melompati jalur lingkar Kaldera Tengger yang memiliki lebar sekitar 18 meter.
Kondisi tersebut terjadi karena angin bertiup kencang. Api yang membakar vegetasi alang-alang kemudian dapat berpindah melewati jalur tersebut dan menjalar ke area lain.
“Ada jalan selebar 18 meter yang disebut jalur lingkar Kaldera Tengger, tapi sayangnya jalur itu tidak bisa menahan karena angin yang kencang, api bisa meloncati jalur itu,” kata Emil saat meninjau penanganan karhutla Bromo, hari Minggu, 9 Agustus 2026.
Vegetasi alang-alang yang mengering juga membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, petugas tidak hanya mengandalkan satu garis pengamanan untuk menghentikan pergerakan api.
Emil mengatakan petugas kemudian memanfaatkan jalur lama yang berada di sisi utara sebagai batas pengamanan. Jalur tersebut memang lebih sempit dibandingkan jalur lingkar Kaldera, tetapi berada di posisi yang dinilai penting untuk mengantisipasi penjalaran api.
“Jadi ada jalur lain ya ke arah Penanjakan. Itu jalur lama, dia lebih pendek ya, tidak selebar 18 meter, tetapi itu menjadi batas atas dari titik kebakaran,” ujarnya.
Jalur lama tersebut selanjutnya dijadikan titik siaga. Petugas ditempatkan di sekitar area tersebut untuk mengantisipasi apabila api kembali bergerak ke arah yang lebih luas.
Upaya pengamanan dilakukan bersamaan dengan pemadaman di sejumlah titik. Petugas dari berbagai unsur masih berada di lapangan untuk memadamkan api dan melakukan pendinginan.
Emil mengatakan penanganan dilakukan dengan menggabungkan operasi darat dan udara. Titik api yang sulit dijangkau dari darat menjadi sasaran water bombing, sedangkan api kecil dan titik panas ditangani langsung oleh petugas.
“Yang besar ditangani pakai helikopter. Tapi ada titik-titik panas yang masih tersisa, api kecil itu memang harus manual,” katanya.