Mengenal Kampung Adat Kampung Pitu di Gunung Api Purba Nglanggeran
- https://desawisatanglanggeran.id/kampung-adat-kampung-pitu/
Wisata, VIVA Banyuwangi – Di balik megahnya Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta, terdapat sebuah kampung adat unik bernama Kampung Pitu.
Berada di puncak timur gunung, kampung ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga, sesuai namanya: "Pitu" yang berarti tujuh dalam bahasa Jawa. Selain letaknya yang terpencil dan tenang, Kampung Pitu menyimpan kekayaan budaya dan tradisi yang terus dijaga hingga kini.
Asal-Usul dan Legenda Kampung Pitu
Nama Kampung Pitu tidak lepas dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun. Menurut sang juru kunci, Mbah Rejo Dimulyo, dahulu kala seorang abdi dalem dari Keraton Yogyakarta menemukan sebuah pohon langka bernama Kinah Gadung Wulung, yang diyakini memiliki kekuatan magis. Untuk menjaga pohon tersebut, diadakanlah sayembara yang akhirnya dimenangkan oleh tujuh orang pilihan.
Dari ketujuh penjaga itu, dua di antaranya, yaitu Eyang Irodikromo dan Eyang Tir, menetap di kawasan tersebut dan menurunkan generasi yang kemudian dikenal sebagai warga Kampung Pitu. Lima orang lainnya meninggalkan wilayah tersebut, dan dalam cerita rakyat, dikisahkan ada yang mengalami moksa. Hingga kini, masyarakat setempat meyakini bahwa Pohon Kinah Gadung Wulung hanya bisa dilihat oleh mereka yang tercerahkan.
Tradisi dan Adat Istiadat yang Masih Dilestarikan
Meski mayoritas warganya memeluk agama Islam, masyarakat Kampung Pitu tetap melestarikan tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai upacara adat seperti slametan dilakukan sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan, sementara rasulan menjadi ungkapan syukur atas hasil panen.
Tradisi agraris seperti mong-mong, wiwitan, dan kenduri juga masih rutin dijalankan, sarat dengan makna spiritual dan penghormatan terhadap alam. Seluruh ritual tersebut dilaksanakan dengan khidmat dan penuh kebersamaan, menjadi perekat kuat dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Kampung Pitu.
Situs Budaya: Tlogo Guyangan dan Jaran Sembrani
Salah satu situs budaya penting di Kampung Pitu adalah Tlogo Guyangan, sebuah mata air yang digunakan dalam berbagai ritual adat. Dalam legenda lokal, telaga ini pernah digunakan oleh bidadari untuk memandikan kuda bersayapnya, Jaran Sembrani. Di sekitar lokasi, terdapat jejak tapak kaki kuda yang dipercaya sedang "mengkal" (beristirahat) sebelum kembali terbang ke langit.