Tradisi Ramadhan dan Lebaran Tak Lekang Waktu di Tanah Melayu Kepulauan Riau

Ilustrasi Malam 7 likur, Masjid dan gerbang dihiasi lampu
Sumber :
  • https://disbud.kepriprov.go.id/wp-content/uploads/2019/05/GERBANG-1.jpg

Budaya, VIVA BanyuwangiBulan Ramadhan hampir tiba. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tentunya akan menyambutnya dengan penuh sukacita. Tidak hanya ingin meningkatkan kualitas keimanan menjadi lebih baik, namun juga melaksanakan tradisi turun temurun yang telah diwariskan dari budaya yang telah berjalan lama. Begitu juga di daerah Kepulauan Riau yang identic dengan suku melayu dan mayoritas beragama Islam, tradisi menyambut Ramadhan sudah mulai dilaksanakan dari satu bulan sebelum Ramadhan tiba, tepatnya di bulan Sya’ban. Adapun tradisi yang dilakukan diantaranya :

1.     Tepuk Tepung Tawar

Ngakak Brutal! 5 Film Komedi Indonesia yang Bikin Perut Kaku

adalah tradisi Melayu di Kepulauan Riau sebagai bentuk syukur atas keberhasilan atau acara penting. Prosesi ini melibatkan penaburan ramuan seperti beras putih dan kuning, serta doa-doa untuk menghilangkan penyakit dan mendatangkan kebahagiaan. Begitu juga dengan bulan Ramadhan, sebelum menyambut bulan Ramadhan, biasanya di setiap rumah melakukan penaburan ramuan guna keselamatan dalam pelaksanaan puasa. Tradisi ini masih dijalankan di beberapa daerah yang ada di Kepulauan Riau.

2.     Kenduri Ruah

Pembacaan Yasin, Tahlil Jamak atau Kenduri Ruah yang rutin dilakukan masyarakat Pulau Penyengat, Tanjungpinang dan hampir di setiap daerah yang ada di Kepulauan Riau. Setiap menyambut bulan suci Ramadhan adalah tradisi turun temurun berisikan dzikir dan doa kepada Allah SWT. Kenduri Ruah dilakukan pada bulan Sya'ban jelang Ramadhan dengan keistimewaan berupa doa kebaikan yang diberikan anak kepada almarhum orangtuanya atau sesama muslim yang lebih dulu meninggalkan dunia. Dulu pelaksanaan biasanya dilakukan dari rumah ke rumah dengan waktu pelaksanaan 2-3 minggu sebelum Ramadhan. Saat ini sudah banyak Masjid di tiap perkampungan melaksanakan Kenduri Ruah secara massal untuk membantu bagi masyarakat yang mungkin secara keuangan belum mampu melaksanakan secara pribadi. Setiap masyarakat urunan menyumbang makanan dan minuman untuk dihantarkan ke masjid. Kegiatan biasanya dilakukan sehabis Isya dan mendatangkan tokoh agama untuk memberikan tausiyah. 

3.     Ziarah Kubur

Komedo Membandel? Hempaskan dengan Cara Alami dan Permanen Ini!

Sehari sebelum Ramadhan dilaksanakan, masyarakat berbondong bondong melakukan ziarah ke makam keluarganya. Sementara menjelang lebaran dilakukan sehari sebelum lebaran atau pagi raya setelah melaksanakan sholat idul fitri.

4.     Jalan Jalan Petang

Sebenarnya hampir semua daerah di Indonesia melaksanakan ini pada saat puasa. Kegiatan mencari takjil makanan dan berjalan jalan di sore hari yang biasanya dikenal dengan istilah Ngabuburit. Hanya saja di Kepri menyebutnya Jalan jalan petang. Namun, karena pergeseran zaman dan trends, nama ini jarang sekali dipakai, digantikan dengan istilah ngabuburit.

5.     Malam tujuh likur

Cireng Crispy Bumbu Rujak: Resep Jajanan Kekinian, Bikinnya Gampang!

Pada malam ke 27 bulan Ramadhan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dilaksanakan dengan semarak dan menjadi sebuah tradisi yang tidak lekang oleh zaman. Tradisi tujuh likur adalah tradisi memasang lampu pelita (lampu dengan bahan bakar minyak) di perkarangan rumah dan menghias jalan-jalan. Lampu yang dipasang semakin menambah semarak Ramadhan dan tanda kesiapan menyambut Lebaran.

6.     Tradisi Nyembah Belari

Tradisi unik dan seru ini dilakukan setiap Lebaran oleh masyarakat Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Untuk tradisi ini, Kabupaten Bintan, Kecamatan Tambelan masih melaksanakannya setiap Tahun. Dinamakan Nyembah Berlari, artinya adalah melakukan sungkeman atau salaman kepada orang yang lebih tua di depan rumah. Orang orangtua menunggu sambal memberikan uang lebaran kepada anak anak, setelah itu anak anak berlari menuju rumah berikutnya. Dengan bentuk perkampungan yang masih terbuka dan tinggal berdempetan, tentu saja kegiatan ini sangat menyenangkan bagi anak anak. Pulang dari shola idul fitri, mereka sudah berkumpul diujung perkampungan, dengan membawa tas atau kantong untuk menampung uang lebaran, permen atau coklat yang akan diberikan. 

Dengan tetap melestarikan tradisi ini, Masyarakat Kepulauan Riau berharap Ramadhan yang datangnya setahun sekali ini akan selalu disambut penuh semangat sukacita, dan semakin menebalkan keimanan diantara sesame dan menjalin silaturrahmi agar tetap terjaga.