Belum Kerja? Nih Cara Olah Sampah Agar Menghasilkan

Memanfaatkan Benda Disekitar Hingga Menjadi Sebuah Sofa
Sumber :
  • Dok. Hermansyah/VIVA Banyuwangi

Bima, VIVA Banyuwangi – Mendapatkan pekerjaan seolah menjadi target utama setelah lulus dari bangku kuliah ataupun bangku sekolah. Sedangkan jumlah lapangan pekerjaan berbanding terbalik dengan jumlah pencari kerja.

img_title Feri Sofiyan Akui Sampah, Ternak dan PKL Merusak Pemandangan Kota Bima

Jika belum menemukan pekerjaan, tidak ada salahnya menciptakan sebuah pekerjaan baru untuk menghasilkan rupiah.

Namun tidak jarang, saat akan memulai sebuah usaha. Ketidakadaan modal kadang kala juga menjadi permasalahan berikutnya terutama bagi pencari kerja baru.

img_title Jangan Buang Dulu! Yuk Intip Manfaat Daur Ulang Sampah

Namun hal tersebut bukanlah kendala bagi Hermansyah yang memilih menekuni usaha sendiri daripada mengadu peruntungan dengan mencari pekerjaan di tempat lain.

Proses pembuatan sofa

Photo :
  • Dok. Hermansyah/VIVA Banyuwangi

img_title Warga RT 02/03 Bajulmati Kelola Sampah Mandiri, Solusi Bersama untuk Lingkungan Bersih

"Banyak sekali sampah yang tercerai berai di sekitar lingkungan saya. Di satu sisi, banyak warga atau mahasiswa yang masih pengangguran," ujar Hermansyah.

Dari dua hal inilah terlahir sebuah inovasi di tangan dingin warga Jalan Sukun Karara Kota Bima untuk memulai usaha sendiri tanpa modal yang besar.

"Di daerah-daerah pedesaan tidak mengerti bagaimana menciptakan inovasi pengelolaan sampah itu seperti untuk membuat sofa serta yang lainnya," jelas Hermansyah.

Dengan banyaknya bahan baku disekitar kita yang tidak difungsikan, secara otomatis tidak memerlukan modal mahal untuk memulai usaha sendiri karena bahan baku mudah didapatkan.

Hasil pendaurulangan Benda Tak Terpakai di Lingkungan Sekitar

Photo :
  • Dok. Hermansyah/VIVA Banyuwangi

"Disinilah ada kesadaran untuk menjadikan itu tempat atau lapangan pekerjaan bagi warga atau mahasiswa yang masih menjadi pengangguran," tutur Hermansyah pada Banyuwangi.viva.co.id.

Nilai ekonomis pada inovasi tersebut diyakini bisa menjadi solusi untuk penanganan sampah serta mengurangi angka pengangguran di usia produktif.