Bangun Pagi VS Jam Biologis, Lebih Efektif Mana?
- https://www.freepik.com/free-photo/lady-wake-up-stretch-oneself-lazily-fresh-morning_3937734.htm
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Saat ini banyak digaungkan tagline-tagline standar emas kesuksesan. Banyak yang mulai berbenah dan mengatur ulang kegiatan dari bangun hingga tidur. Salah satunya adalah mengatur jam bangun tidur menjadi lebih pagi. Namun muncul pertanyaan besar, apakah dengan bangun terlalu pagi membuat tubuhmu siap untuk menghadapi dunia? Atau justru dipaksa “hidup” karena kepala terasa berat seharian dan tubuh mulai tidak sinkron dengan fikiran?
Sains punya jawaban menarik dari lifestyle bangun terlalu pagi ini. Faktanya tubuh manusia memiliki jam biologisnya sendiri. Jam dalam tubuh ini bernama Chronotype, Ia berfungsi sebagai pengatut ritme dari energi, fokus, mood, hingga performa fisik dan kognitif manusia sepanjang hari. Jam biologis ini sering kali di abaikan, dan terkalahkan oleh narasi budaya hustle. Jadi, apakah bangun pagi cocok untuk semua orang? Berikut penjelasan ilmiahnya.
Tubuh punya alarm sendiri, Chronotype!
Dalam jurnal Randler (2016) yang berjudul Chronotype and Academic Achievement, menjelaskan bahwa manusia terbagi dalam 3 tipe chronotype, sebagai berikut:
- Early Chronotype (Lark): Manusia yang bangun pagi secara alami dan sangat produktif di pagi hari.
- Intermediate Chronotype: Manusia yang fleksibel dan memiliki performa yang lebih stabil.
- Late Chronotype (Owl): Manusia yang aktif pada malam hari, dan puncak produktivitasnya antar sore hingga malam hari.
Menurut data secara global, lebih dari 50% populasi dewasa muda masuk pada late chronotype. Ini berarti, mereka baru mencapai fokus dan performa energi yang optimal setelah pukul 10 pagi, bahkan lebih.
Artinya, bahkan jam biologis kita membawa warisan biologis dan psikososial yang tidak bisa dipukul rata oleh narasi hustle.
Fakta ilmiah yang jarang diangkat
Berdasarkan jurnal Randler (2016), perbedaan Chronotype ini berdasarkan jenis kelamin. Perempuan cenderung menjadi morning chronotype, terutama pada usia reproduktif. Perbedaan ini akan muncul saat masuk masa pubertas dan memudar setelah masa menopause. Randler menyatakan ini berhubungan dengan fungsi reproduksi. Artinya, jam biologis pada manusia membawa warisan biologis dan psikososial yang tidak bisa dipukul rata.